Kisah Daud Hakim Dan Trista – S. Mara GD – Serial Detektif Indonesia

Kisah Daud Hakim Dan Trista 1
Pengarang : S. Mara Gd
Penerbit      : PT Gramedia Pustaka Utama Tahun 1992

 

Novel ini berisi beberapa kasus yang harus dipecahkan oleh Letnan Polisi Daud Hakim dengan bantuan kekasihnya, Trista, yang juga wartawati majalah.  Beragam kasus yang dikisahkan sangat dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia, mulai dari suasana masyarakatnya, karakter tokoh-tokohnya, dan tentu saja detail set tempat TKP (Tempat Kejadian Perkara).

KASUS pertama yang dihadapi Letnan Daud Hakim sebagai reserse adalah ‘Misteri Tiga Lembar Surat Kaleng’ yang diterima Yusuf Prayitno, supervisor pemasaran wilayah Indonesia Barat, di PT Juarco. Surat kaleng ini menyuruhnya mengundurkan diri dari kantor, bila tidak kasus yang melibatnya di Porong akan dibongkar. Yusuf bingung, padahal dia berharap dipromosikan Ferdinand, atasannya, untuk menjadi kepala pemasaran menggantikannya, sementara Ferdinand menggantikan Gatot, kepala cabang yang akan pensiun. Semula yang dicurigai Ridwan, supervisor pemasaran untuk Indonesia Timur yang menjadi saingannya mendapatkan promosi. Trista yang wartawati majalah Trend, membantu Daud melakukan penyelidikan ke PT Juarco bertepatan dengan kedatangan Direktur dari Jakarta, Bu Endang, yang heran melihat polisi ikut campur dalam promosi perusahaan. Mendengar ada kasus surat kaleng, dia malah tertarik untuk mengikuti kelanjutan. Berkat bantuannya juga diketahui siapa penulis surat kaleng tersebut.

Dalam ‘Misteri Mayat Tanpa Hidung’, Daud dan Trista menyelidiki pembunuhan sadis di sebuah motel. Mayat lelaki tersebut bukan hanya dipotong hidungnya dan diobrak-abrik. Agak menyeramkan sih, tapi kalo dipikir-pikir. Tapi detail kasus tidak membuat kita jadi malas membaca kelanjutan kasus ini.

Selanjutnya, tentang kenakalan seorang anak, Indro, dalam ‘Misteri Empat Butir Mangga’ yang berakibat kepada kematiannya. ‘Hobby’nya mencuri buah mangga orang lain. Suatu hari dia sempat bercerita pada ibunya, melihat seseorang membunuh, tapi ibunya yang tak percaya tidak mempedulikannya. Petunjuk ini ditelusuri Daud Hakim bersama Trista.

Dalam ‘Misteri Bayangan di Jalan Gelap’, Daud Hakim nyaris menjadi tersangka. Gara-gara seorang gadis korban perkosaan dan pembunuhan menyebutkan namanya sebelum meninggal dunia. Namun aksi nekat Trista yang tak percaya kekasihnya memperkosa dan membunuh sebagaimana yang dituduhkan, justru berhasil mengungkap kasus. Tapi akibatnya, nyawa Trista sempat terancam.

Dan kisah misteri lainnya disajikan dengan tulisan yang mengalir dan seru. Nggak ngebosenin. Sayangnya, makin kesini kok ya memang nggak ada penulis semodel S. Mara GD ya? Atau saya yang nggak apdet? Entah juga, yang jelas, buat pembaca jaman baheula, karya2 penulis seperti S. Mara GD sayang untuk dilewatkan. Paling pas dibaca dalam perjalanan di kereta api, lhoo, hehe….

 

 

Out of Sight

Gara-gara seneng baca, ada banyak ‘efek samping’ yang saya dapatkan. Dan yang paling utama adalah pengetahuan dan wawasan yang senantiasa bertambah. Satu dari sekian buku (novel) yang saya baca ulang belakangan hari ini adalah salah satu karya S. Mara GD, satu dari sekian novelis keren yang saya kangenin karyanya.

Salah satu alasannya adalah konsep misteri yang diusung oleh beliau. Tidak banyak novelis misteri yang sukses di Indonesia, apalagi dengan hasil cetak yang banyak dan bahkan berulang. Yang saya tahu ada kurang lebih 46 judul.  Pastinya saya kagum banget dengan penulis-penulis dengan ide cerita yang seakan nggak pernah habis seperti S. Mara GD. Asli, versi cetaknya aja dari berbagai seri (ada macam serial detektif polisi Kosasih dan Gozali, serial polisi Daud Hakim dan pacarnya, Trista, sampai seri misteri dengan berbagai tokoh) udah banyak banget.

Dan entah ada kaitannya atau tidak, apakah karena beliau penulis kisah misteri atau bukan, kok ya cari profilnya agak susah juga. Yang saya tahu, beliau memulai karir sebagai penulis kisah misteri sejak tahun 84/85, dan sebelumnya menjadi penerjemah serial detektif karya Agatha Christie. Udah, itu aja ‘thok. Nggak macam penulis populer seperti Dewi Lestari/Dee Lestari atau Andrea Hirata yang bahkan kehidupan pribadinya jadi konsumsi banyak orang.

Oya, coba perhatikan juga nama-nama penulis berikut ini : Mira W. , Marga T, S. Mara GD.  Mirip-mirip ya?  Dan masa keemasan mereka pun sejaman, kira-kira tahun 80-90an. Apakah mereka saling kenal ? Pernah saling berkomunikasi ? Atau siapa tau malah sengaja kompakan urusan nama? #eh

Lah, kok jadi ‘sok detektif’ ya? 😀

Tapi menyenangkan juga, lho, sesekali baca buku misteri (detektif). Apalagi sangat jarang kita temukan tulisan (meskipun fiksi) yang lumayan detail menggambarkan bagaimana pekerjaan polisi yang bertugas menyelidiki suatu kasus, apalagi dengan set tempat di Indonesia. OKelah, kita sudah menonton bermacam serial detektif impor yang tayang di tv kabel. Namun tetap saja, Indonesia-nya itu, lho, deket banget dengan kehidupan kita, hehe. Setidaknya bikin kita waspada bahwa segala macam kejahatan mungkin saja terjadi di dekat kita. Tapi ya jangan jadi paranoid juga. Semua ada porsinya. Kali ini, cukup nikmati sebagai fiksi saja.

 

 

 

 

 

-W-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s