Amelie dan Kebahagiaan

 

Menjadi seorang Perempuan yang bahagia, adalah satu tantangan tersendiri bagi perempuan-perempuan di seluruh dunia. Apalagi jika definisi kebahagiaan itu dipecah lagi menjadi beberapa kategori dan sub kategori, akan sangat merepotkan rasanya. Tapi bagi Amelie Poulain, bahagia itu bisa digambarkan dalam bentuk sebuah senyum tulus dan tatapan mata yang bermakna dalam. Hanya saja jalan untuk menuju tercapainya kebahagiaan itu memang tak semudah yang dibayangkan. Bagi Amelie — yang merupakan karakter film — apalagi bagi kita (baca : saya) yang hanya rakyat jelata tak berpunya.

Film ini sebetulnya dirilis tahun 2001, tapi ndilalah baru sempat saya tonton tahun 2006, dan ditonton lagi tahun 2017. Ah, Mbak Amelie, begitu lama dirimu ada dalam pelukanku, tapi baru kali ini daku menyelami kehidupanmu sebegitu instensnya hahaha…

Masalahnya adalah, betapa Amelie ini merupakan karakter yang menarik buat saya. Bahkan kisah hidupnya sejak kecilpun sudah menandakan bahwa kelak ketika dewasa ia akan menjadi seseorang yang super istimewa.

Jean Pierre Jeunet dan Guillaume Laurant , menulis cerita tentang Amelie dengan apik dan menarik, apalagi Jeunet mengarahkan akting Audrey Tatou (pemeran Amelie) dengan tak kalah piawai sehingga membuat untaian peristiwa dalam kehidupan seseorang bisa menjadi bagian dari untaian peristiwa seseorang yang lain. Heu, mudah-mudahan kalimat barusan gak bikin bingung, ya. Intinya, sih, setiap manusia di muka bumi ini memang terkait satu sama lain, dengan cara yang entah bagaimana hanya Yang Maha Mengatur yang mengetahuinya.

Amelie adalah anak dari Mr. dan Mrs. Poulain yang kesepian sejak kecil. Mungkin itu sebabnya Amelie menjadi gadis kecil yang pemalu. Ayah Amelie adalah seorang dokter dan ibunya adalah seorang guru. Mungkin karena saking sayangnya pada Amelie, Amelie hanya boleh mengikuti homeschooling di rumah. Karakter kedua orangtuanya yang unik membuat Amelie kecil mempunyai karakter kepribadian yang tak kalah unik. Contohnya saja dari cara Amelie melihat awan di langit. Gumpalan putih yang menurut kita biasa-biasa saja bisa berubah menjadi bentuk kelinci lucu berwarna putih di mata Amelie.

Oya, ada kejadian lucu tapi ironis, ketika Amelie yang hanya disentuh oleh ayahnya sebulan sekali—itupun untuk keperluan pemeriksaan medis bulanan — membuat ayahnya membuat diagnosa bahwa Amelie mengidap penyakit jantung. Tau alasannya kenapa ? Karena setiap kali disentuh oleh orang lain, termasuk ayahnya yang jarang berkomunasi apalagi menyentuhnya, jantung Amelie akan berdetak dengan sanat kencang! Termasuk ketika ayah memeriksanya! Jadilah, Amelie tumbuh sebagai gadis yang percaya bahwa ia mengidap Penyakit Jantung (an) 😀

Unsur tragedi mulai terasa ketika memasuki peristiwa Ibu Amelie meninggal dengan cara yang tidak biasa : tertimpa oleh tubuh seorang turis yang jatuh karena bunuh diri. Kematian ibunya membuat Amelia menjadi lebih kesepian, dan membuat ayahnya terkesan menjauh. Apalagi sang ayah mewujudkan rasa cinta pada ibunya dengan cara yang tak kalah unik, yaitu dengan menyusun beberapa patung kurcaci di kebun rumah. Waktu pun berlalu sampai kemudian Amelie bisa hidup mandiri dengan tinggal terpisah dari ayahnya dan bekerja di sebuah kedai kopi sebagai pelayan. Kisah mulai berkembang ketika Amelie menemukan sebuah kotak yang ternyata isinya adalah macam-macam mainan, yang bisa dibilang seperti ‘harta karun’ anak-anak di apartemennya. Perjalanan menemukan pemilik kotak istimewa itulah yang menjadi jalan bagi Amelie untuk mewujudkan kebahagiaannya. Karena, setelah bertemu dengan si pemilik kotak, Amelie bertekad untuk membahagiakan hati siapapun yang membutuhkan tanpa pamrih apapun. Amelie hanya ingin melihat orang lain bahagia, karena ia sendiri akan merasa bahagia karena hal itu. Ahhh…so sweet, yaa….

Hingga berbagai peristiwa membawa Amelie bertemu dengan seorang pemuda yang tak kalah unik seperti dirinya, yaitu Nino Quincampoix … STOP. Saya nggak akan kasih spoiler lebih banyak lagi, ah. Silakan tonton sendiri kelanjutannya, yaaa. Pastinya, Amelie merupakan salah satu film yang bisa menyenangkan hati. Meskipun full berbahasa Perancis, tapi nggak bikin pemahaman kita jadi ngaco, kok, atas keseluruhan cerita. Belum suasana film dan latar tempat yang dipakai, benar-benar memanjakan mata dan imajinasi. Ada beberapa set yang bisa bikin kita (saya, khususnya) jadi terinspirasi untuk jalan-jalan ke Montmartre, suatu wilayah perbukitan di Paris, Perancis, yang juga tempat wisata (ah, dimana sih di Paris yang nggak jadi tempat wisata?)

Judul aslinya adalah e Fabuleux Destin d’Amélie Poulain (The Fabulous Destiny of Amélie Poulain) diproduksi secara internasional oleh perusahaan Perancis dan Jerman. Film ini awalnya dirilis di Perancis, Belgia dan  Swiss yang berbicara bahasa Perancis, baru kemudian ditayangkan lebih lanjut di berbagai festival film sampai kemudian bisa ditonton juga di Indonesia, yang awalnya kalau di Bandung sendiri tayang di CCF Jl. Purnawarman (duluuuu banget).

Amélie memenangkan penghargaan best film di European Movie Awards; juga empat César Awards (termasuk Best Film dan Best Director), dua BAFTA Awards (termasuk Best Original Screenplay), dan dinominasikan untuk lima Academy Awards.

Intinya, setelah nonton film ini, selain saya jadi lebih suka film-film romansa khas Eropa ala Perancis, tapi juga jadi lebih semangat untuk belajar bahagia dengan cara saya sendiri, tentunya. Bahwa bahagia itu tak melulu harus dirasakan dengan cara yang neko-neko macam liburan ke tempat yang jauh dan mahal atau belanja sesuka hati. Cukup dengan merasa bahwa ada seseorang yang peduli akan kebahagiaan kita dan kita juga bahagia kalau melihat dia bahagia, itu juga sudah menjadi kebahagiaan tersendiri. Simple. Tapi semoga nggak bingung dengan begitu bertebarannya kata BAHAGIA di tulisan ini, hahaha…

Semoga berbahagia, yah, siapapun Anda 🙂 Dan sempatkan untuk berbuat baik pada siapapun, karena siapa tahu, itu pun merupakan cara agar Anda bisa ikut merasa BAHAGIA seperti Amelie.

 

-W-

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s