Si Kutu Loncat

Pernah dengar istilah di atas kan? Si Kutu Loncat. Konon sih, Kutu Loncat itu kan kerjaannya emang loncat sana-loncat sini, semau-maunya dia hidup di satu tempat, menghisap makanan sepuasnya, terus loncat lagi deh ke tempat yang lain. Naaa, kalau Kutu Loncat ada di dunia kerja (manusia lah yaaa) dengan istilah yang sama kita bisa temukan manusia yang juga kerjaannya sama : loncat sana, loncat sini. Tapi sih, kadang imejnya jadi negatif ya. Lebih dekat ke : nggak stabil, nggak punya pendirian, nggak tahan mental, dsb. Jawab sendiri aja deh, sisanya.

13618-citra-negatif-seorang-kutu-loncat-2

Tapi sebenarnya sih, nggak melulu kesan negatif lho, yang bisa kita tangkap dari Si Kutu Loncat ini. Selalu ada alasan di balik gerakan ‘loncat’nya si doi. Mulai dari alasan yang masuk akal sampai yang nyebelin sekalipun pasti ada alasannya. Jadi nggak bisa kita sembarangan menghakimi keputusan orang lain.

 

Sekian waktu ke belakang, saya pun sempat punya pemikiran yang sekolot seperti : saya gak akan jadi kutu loncat, gak akan seenaknya pindah sana-pindah sini, dll. Tapi kenyataan membuktikan lain. Dunia berputar dan bergerak, maka saya pun ikut bergerak. Kalau statis, sama artinya saya membiarkan otak, hati, pikiran dan fisik saya menjadi budak dari zona nyaman yang aneh. Berlagak merasa aman dan nyaman padahal enggak. Membohongi diri sendiri atuh ya. Gak ah.

 

Hingga kemudian saya memilih jalan religius sebagai pelega perasaan ngganjel di hati saya ini. Cara yang saya anggap efektif sepanjang hidup saya, dan sudah beberapa kali saya lakukan di saat-saat yang ‘genting’ dan bahkan kadang bikin hati ini ‘seseblakan‘ kalo kata orang Sunda mah :)) Shalat Istikharah. Dan disinilah segala perkara sulit kemudian bisa seperti benang kusut yang mulai terurai. Otak yang mulai berembun, seakan kena sinar matahari sesaat lalu cerah lagi seperti kaca digosok kanebo.

 

Allah memberi saya intuisi untuk bergerak seperti Si Kutu Loncat. Dan saya yakin, yang merasakan posisi seperti si Kutu Loncat ini ada banyak sekali di atas bumi ini. Semuanya dengan berbagai alasan yang nggak bisa kita hakimi sebagai sesuatu yang salah. Terus terang, saya tergerak untuk menulis hal ini setelah secara nggak sengaja melihat satu kalimat yang entah menjadi judul foto atau artikel di Instagram atau judul vlog di sebuah saluran youtube : Fenomena Kutu Loncat di dunia Penyiar Radio. Yaaah, kurang lebih seperti itulah. Lupa-lupa ingat saya nya.

 

Kalau disebut fenonema ya nggak cocok juga sih, sebenarnya. Kan bukan sesuatu hal yang luar biasa juga keleeuuus. Berpindah tempat kerja adalah sesuatu yang wajar apalagi jika kita punya alasan untuk melakukannya. Yang penting kan hubungan kita tetap baik dan silaturahmi bisa terjaga satu sama lain. Pindah kantor nggak berarti musuhan atuh! ecuali kalau alasan mundur dari tempat itu karena ada friksi atau apalah yang negatif, ya gimana ya…agak susah juga menjaga hati ini, hehehe….

 

Toh, ujung-ujungnya selalu ada harapan agar tempat itu menjadi pelabuhan terakhir. Mengingat usia, kemampuan, dan daya saing juga. Semua akan berada di ‘track‘ yang sesuai kalau kitanya juga ikhlas kok, rela menjalani ini semua sebagai sebuah proses.

 

2017 adalah tahun ke sekian bagi saya menikmati segala sesuatu dari dunia radio. Belum jadi apa-apa, belum kemana-mana—-kalau membandingkan dengan sesama kawan yang sudah meraih kesuksesan duniawi. Tapi buat saya pribadi, pencapaian yang saya peroleh secara pengalaman alhamdulillaah sudah cukup membuat saya kaya. Cukup kaya untuk bisa mengenal karakter orang-orang yang selama ini berada dalam lingkaran kehidupan saya baik di dunia radio maupun non radio. Meskipun belum cukup kaya untuk bisa beli pesawat jet, hehehe…

 

Pertengahan tahun ini, saya memutuskan untuk meloncat ke tempat yang mempunyai tantangan berbeda. Saya tetap orang yang sama, berusaha konsisten dengan keberadaan saya, namun tidak berusaha menjadi seseorang yang berbeda agar bisa diterima di lingkungan yang baru. Siapa tau bisa jadi tips juga bagi Anda yang saat ini berada di posisi ‘pindah jangan ya’ tadi. Mantapkan hati, selaraskan dengan pikiran dan fisik kita, dan biarkan alam semesta bekerja 🙂

 

 

 

-W-

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s