Bincang Sore bersama Prof. Khoirul Anwar, Penemu 4G

IMG_20161221_160236.jpg

Sore ini — 21 Desember 2016, menjadi sore yang penuh makna buat saya, dan mudah-mudahan bagi pendengar yang saat itu juga mendengarkan acara tersebut. Pada setiap Rabu interval pertama, memang merupakan jadwal tetap Telkom University, yang kali ini ‘mengirimkan’ salah satu staff pengajar disana yang juga menjabat sebagai Director of the Center for Advanced Wireless Technologies (AdWiTech), yaitu Profesor Khoirul Anwar.

Yang menarik, tamu sore ini rupanya adalah seseorang yang berperan besar di dunia telekomunikasi secara internasional. Namanya sudah diakui sebagai pemilik hak paten teknologi 4G berbasis OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) — yang semakin hari semakin sering kita dengar istilahnya. Dan yang lebih membanggakan adalah bahwa orang Indonesia-lah yang menjadi pemeran utamanya.

Obrolan sore kami dibuka dengan profil Prof. Khoirul Anwar, pria kelahiran Kediri, yang menjalani pendidikan di Indonesia sejak SD hingga S1 di Institut Teknologi Bandung, kemudian melanjutkan pendidikan melalui beasiswa S2 dari Panasonic dan beasiswa S3 dari perusahaan Jepang. Berbagai penghargaan internasional telah diraih, dan yang terkini adalah penghargaan yang diberikan oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan.

Berbicara mengenai beasiswa, putra dari pasangan (almarhum) Sudjianto dengan (almarhumah) Siti Patmi ini punya cerita istimewa. Bahwa tak selamanya segala sesuatu berjalan dengan mudah dan mulus. Contohnya saja ketika ia mengikuti program beasiswa dan sempat mengalami kegagalan ketika diharuskan mengikuti tes bahasa Jepang yang menjadi bahasa utama tes masuk ke universitas yang dituju. Bukan cuma sekali gagal, namun dua kali gagal. Hikmahnya baru terasa setelah bertahun-tahun kemudian setelah Pak Khoirul akhirnya diterima di Nara (masih di Jepang juga) dan laboratium yang tadinya dituju di awal kedatangan di Jepang malah akan ditutup.

Selalu berprasangka baik kepada Yang Maha Kuasa Pemilik Semesta Alam, dan YAKIN bahwa meskipun yang dialami kita pada awalnya kelihatannya buruk bagi kita, namun di kemudian hari pasti ada hikmah yang sudah disiapkan untuk kita.” Lagi-lagi Pak Khoirul mengingatkan saya tentang hal ini. Sederhana, namun sebagai manusia biasa memang lebih sering kita merasakan kekecewaan yang mendalam ketika kegagalan itu datang dibanding mencoba memahami bahwa Allah SWT sebenarnya sedang mempersiapkan sesuatu yang jauh lebih baik untuk kita.

Mungkin karena senantiasa berprasangka baik itu pulalah, Pak Khoirul memutuskan untuk menerima tawaran dari Telkom University di Bandung tiga bulan yang lalu. Semangat untuk mengembangkan dunia teknologi di negeri sendiri sekaligus keinginan berbakti pada Indonesia tanah kelahiran membuat Pak Khoirul rela meninggalkan negeri Jepang yang penuh kenyamanan, serba teratur dan memberikan banyak pengalaman baginya. Satu cerita tentang Nara, kota yang ditempatinya selama 14 tahun belakangan ini adalah ketika Walikota Nara membolehkan Pak Khoirul meminta agar salah satu fasilitas umum di dekat kampusnya saat itu dibangun, yaitu sebuah stasiun kereta api untuk memudahkan mobilitasnya ke kota lain, Osaka khususnya. Dan permintaan itu diwujudkan juga akhirnya, meski kemudian Pak Khoirul dan keluarga memutuskan untuk meninggalkan semua kenyamanan itu.

Saat ini sedang turun salju di Nara,” kata Pak Khoirul sedikit menerawang, kemudian sedikit membandingkan dengan kawasan Bandung Selatan yang memang lebih sering mengalami banjir. “Kondisi yang membuat kami sempat kaget adalah banjir beberapa waktu lalu di dekat tempat tinggal kami dekat kampus, namun juga sekaligus menyemangati saya untuk membuat teknologi yang bisa mendeteksi bencana alam sebagaimana halnya teknologi di Jepang yang sudah bisa mendeteksi datangnya gempa langsung menuju ponsel masing-masing.”

Ya, Pak. Bapak sudah membuktikan pada dunia, memperlihatkan kepada rekan-rekan peneliti dari Australia, dari AS – California,  seperti yang Bapak kisahkan—bahwa mereka yang tadinya meremehkan hasil kerja keras Pak Khoirul seperti seorang profesor asal Australia yang  berkomentar,” it’s useless….” ketika hasil temuan Pak Khoirul yang kini kita kenal dengan teknologi 4G itu saat ini telah diakui hasilnya, justru kini angkat topi. Bahkan saat ini teknologi 5G dan 6G pun sedang dijajalnya untuk bisa diwujudkan di Indonesia dan seluruh dunia.

Waktu yang disiapkan untuk acara bincang-bincang kali ini sebetulnya adalah empat puluh lima menit, namun keterlambatan sebanyak lima belas menit membuat lumayan banyak juga waktu hilang yang seharusnya saya manfaatkan untuk mengetahui lebih banyak mengenai Pak Khoirul. Belum sempat saya gali mengenai inspirasi tentang karya-karyanya yang ternyata datang dari film animasi (anime jepang, lho) yang juga sama-sama saya sukai (itupun saya tahu setelah saya browsing di internet:D)

Di sisa waktu yang sempit, berkaitan dengan suasana Hari Ibu di tanggal 22 desember, saya sempatkan juga untuk bertanya mengenai peran seorang Ibu dalam kehidupannya serta pesan penutup bagi Pendengar. Bagi pak Khoirul, ibunda yang membesarkannya sendirian sejak ayahandanya meninggal di usia SD tentu saja memberikan pengaruh yang sangat besar. Bahkan Pak Khoirul menegaskan,”berkat doa ibu sayalah makanya saya bisa seperti sekarang ini. Beliau senantiasa berdoa, bahakn setiap saat berdoa bagi saya. saya masih ingat, ketika saya masih kuliah di ITB dulu, ibu saya mendoakan agar saya berhasil menjadi mahasiswa terbaik di Indonesia. Dan ternyata doa itu dikabulkan Allah SWT, saya menjadi mahasiswa terbaik di ITB di tahun 2000 dan memberikan speech di hadapan rekan-rekan wisudawan yang lainnya. Beliau mendoakan saya yang terbaik, dan inilah saya, berkat doa ibunda saya. Oleh karena itu kepada semua yang sedang mendengarkan, jangan terlewat, jangan terlupa, kepada yang ibundanya masih hidup, doakan selalu ibunda kita agar senantiasa sehat. Bagi yang ibundanya sudah tiada, juga senantiasa sempatkan untuk mendoakan beliau agar dialapangkan kuburnya, diterima amal ibadahnya…” ada kilau bening di mata Pak Khoirul ketika mengucapkan hal itu. Bahkan terenyuh hati saya langsung mengingat Ibunda saya juga.

Pada saat itu pula saya mengetahui bahwa ibunda Pak Khoirul baru saja meninggal dunia kurang lebih tiga bulan lalu, sebelum Pak Khoirul dan keluarga menginjakkan kaki di Indonesia. Memang, doa ibu senantiasa menjadi berkah bagi anak-anak yang shaleh:) Terima kasih banyak, Profesor Khoirul Anwar atas kehadiran bapak sore ini. Terlalu singkat waktu kita, bahkan untuk mengobrol lebih lanjut tentang hal lainnya pun tak sempat. Tapi ah, siapa tahu Pak Khoirul dijadwalkan lagi untuk mampir di acara saya, hehe. Sehat selalu, Pak, kami nantikan kabar terbaru dari karya-karya Bapak selanjutnya^^

 

 

-W-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s