Acara Rohani Islam Di Radio

Ada sedikit perasaan galau ketika Pak Bos di radio tempat saya siaran sekarang, menugaskan saya untuk memandu acara Rohani Islam. Apalagi, setelah dirunut rupanya acara tersebut sudah berlangsung cukup lama bahkan menjadi acara khas bagi Radio ini. Suatu kehormatan besar sebenarnya untuk bisa menjadi pemandu (baca : moderator) di acara se-legend ‘Stairway To Heaven‘ — acara Rohani Islam tersebut.

 

Antara tidak percaya diri dan segala macam perasaan campur aduk jadi satu, terutama karena pengalaman menjadi moderator untuk acara se’serius’ ini masihlah sedikit. Apalagi kalau kita salah bicara, waaah, nggak bisa main-main kalau urusan agama! Terakhir kali sempat menjadi pemandu acara Rohani Islam di tahun 2001-2002 lalu di sebuah radio di Cimahi, khusus untuk muslimah. Itu pun terkesan sepi, perasaan kayak nggak ada yang denger, hehe. On air jam 11 siang, pas hari Jum’at (lha wong buat muslimah). Dan tugas saya saat itu lebih cocok sebagai operator mixer, hehe. Yah, begitulah, sekelumit cerita jaman baheula 🙂

 

Namun sekali lagi, Pak Bos meyakinkan saya untuk menerima tantangan ini, dengan alasan bahwa acara ini bisa menjadi jalan menuju kebaikan. Itu saja dulu yang dikejar. Tentu saja, saya sangat setuju dengan alasan tersebut. Sekian tahun malang melintang di dunia penyiaran radio, hanya ‘hore-hore‘ dan ‘hura-hura‘ saja yang saya dapat. Haha-hihi mungkin sudah bukan jatah saya lagi. Dan proses uuntuk bisa menerima posisi ini juga bukanlah proses yang mudah dan cepat. Intinya, dengan pertimbangan yang matang dan hil-hil lainnya, akhirnya saya putuskan untuk ambil saja tawaran itu. Ditambah lagi, seolah ‘mestakung = semesta mendukung‘. Soalnya kok ya waktu yang bisa saya sempatkan untuk siaran, pas banget di jam dimana acara tersebut on air. Baiklah. I must ready. Banget, banget, banget.

 

sth

Sebagai persiapan, saya harus dengar dulu, dong, ya, acara tersebut eksekusinya seperti apa. Segera setelah jadwal siaran turun, saya cuma punya jatah dengar dan  simak acara tersebut di satu hari on air sebelum hari H. Untung sekarang jamannya ponsel canggih. Rekam duluuu…hehe…

 

Dan ketika tiba hari H, hari dimana saya berjumpa dengan narasumber untuk pertama kalinya. ‘Orang-orang besar’, orang-orang pintar. Para Ahli agama. Dan para narasumber ini adalah tiga orang dengan karakter berbeda yang masing-masing mempunyai keistimewaan pula. Hari itu adalah—-hari yang penting bagi saya.

 

Penting bukan saja bagi karir saya sebagai seorang penyiar radio yang hanya mengandalkan suara dan kebisaan menghibur pendengar, namun juga sangat penting bagi kehidupan saya sebagai seorang manusia. Mungkin saja di luar sana ada pendapat yang menganggap bahwa acara Rohani Islam baik itu di radio maupun di televisi hanya ‘ngefek’ terhadap ibu-ibu pengajian atau para sepuh yang sudah tidak aktif lagi dalam hal ‘keduniawian’. Mereka menganggap sepele acara semacam ini, baik itu yang tayang biasa subuh-subuh di berbagai radio secara serentak, atau radio yang khusus menyajikan hal-hal keagamaan sepanjang hari. Bahkan juga dengan enteng hati memindahkan saluran TV ketika melihat acara Rohani ISlam.

 

Okelah, setiap karakter acara memang berbeda. Namun untuk yang satu ini memang membutuhkan ‘hidayah’ tersendiri untuk bisa menjalaninya dengan ikhlas. Dan Insya Allah, saya ikhlas. Ikhlas atas penugasan Pak Bos yang —menurut saya sih sangat berisiko mengingat latar belakang saya yang sangat kurang ilmu agama. Ikhlas atas hal-hal yang saya dapati sepanjang perjalanan acara ini. Sekaligus ikhlas atas segala perubahan dalam kehidupan saya pribadi. Saya belajar banyak. Ada sesuatu yang menyentuh hati saya ketika pendengar acara kami dengan ringannya menyebut kami dalam salam mereka,

 

“….Assalammualaikum Wr Wb, Bapak-bapak Ustadz dan Mbak Winda yang dirahmati Allah SWT…”

 

Rasanya sejuk dan menggetarkan, padahal saya hanya membacakan isi sms tersebut.

 

Sekilas ingatan ini membawa saya ke masa dimana saya bersiaran dengan tawa berderai di sepanjang acara yang pernah saya bawakan, bereksplorasi dengan bermacam karakter suara mulai dari nenek-nenek sampai suara mirip doraemon, juga beragam, acara wawancara dengan artis ini itu dan lain sebagainya. Saya merasa sangat kecil dan tak berarti.

 

Sekian waktu saya bersama para narasumber yang luar biasa sabar ini, saya menyerap sebanyak mungkin yang saya bisa. Walaupun hanya satu jam saja setiap kali tayang, namun dengan senang hati saya menjalani ini semua. Lebih senang lagi ketika salah seorang narasumber mempercayai saya dengan memberikan sebuah buku yang ditulis oleh beliau sendiri. Buku yang membawa saya ke arah yang lebih baik 🙂

 

Well, jadinya malah curhat ya, hehe. Tapi intinya adalah, jika ada diantara teman-teman yang masih newbie/bukan newbie sekalipun namun masih ragu untuk berkarir di radio yang hanya menyajikan hal-hal rohani atau bersiaran di acara rohani (khususnya Rohani Islam), JANGAN RAGU untuk mengambil kesempatan itu selagi kita masih bisa. Acara apapun adalah baik, apalagi jika acara tersebut memberikan manfaat bagi orang banyak 🙂 Semoga masih banyak kesempatan saya untuk bisa belajar lebih banyak di acara ini^^

 

 

 

 

-W-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s