Resensi : Morning Glory – Jatuh Hati Kepada Cinta

Judul Buku   : Morning Glory

Penulis          : LaVyrie Spencer

Penerjemah : Endang Sulistyowati

Editor             : Ayuning

Penerbit        : Gagasmedia (2010)

Halaman       : 572

Berat              : 250gr

Dimensi        : 140 x 200

Genre             : Historical Romance

 

LaVyrle Spencer - Morning Glory

 

ELLY

Suami yang dicintainya baru saja meninggal dunia dan Elly tak mungkin sanggup sendiri saja membesarkan dua putranya yang masih kecil dan anak ketiga yang berada dalam kandungan. Tak peduli orang-orang di kota ini menganggapnya gila, Elly memutuskan memuat iklan di koran lokal :  Dicari – Seorang Suami.

WILL

Hidup di luar penjara ternyata jauh lebih kejam. Will Parker hidup berkelana dan menjalani hari-hari keras selama bertahun-tahun. Status mantan narapidana yang disandangnya tak memberinya banyak kesempatan untuk memperbaiki semuanya dari awal. Di tengah keputusasaan itu, Will menemukan iklan Elly di koran.

Sore itu, di musim panas tahun 1941, untuk pertama kalinya Will menginjakkan kakiu di halaman rumah Elly. Dan untuk pertama kalinya, Will mendapat firasat dia tak perlu berkelana ke manapun lagi. Di sinilah dia mendapat kesempatan keduanya. Elly-lah rumah yang dia rindukan…

William Parker, merasa tidak seharusnya ia mendapatkan semua kebaikan yang diberikan oleh Elly. Atas nama Harga diri, Will sempat merasa sangat rendah di hadapan Elly. Namun cinta Elly yang begitu tulus, membuka hatinya terhadap segala perubahan.

Eleanor Dinsmore, dengan masa lalu yang dramatis sekaligus tragis, merasa heran sendiri dengan perubahan yang dialaminya bersama Will. Semua terasa begitu indah, menyenangkan, sekaligus begitu sederhana.

Suasana kota kecil Whitney, rumah mungil Elly dan kebun yang luas, anak-anak yang manis, dan kondisi menjelang perang dunia II sangat detail digambarkan oleh LaVyrie. Bahkan dengan membacanya saja, saya bisa membayangkan seperti apa rumah Elly dan sekitarnya. Terbayang begitu menyenangkan. Seperti dongeng, rumah kecil di antara lahan yang luas, sinar mentari cerah senantiasa, burung-burung dan bahkan kisah tentang lebah dan cara mendapatkan keuntungan dari madu lebah menjadi pelengkap Morning Glory. Dan tentu saja akhirnya terungkap pula mengapa Morning Glory menjadi judul dari buku ini.

Cinta dalam bahasa yang sangat sederhana, itu yang saya temukan dari isi novel ini. Kisah di dalamnya membuat saya terbuai akan kisah cinta sederhana, tidak rumit dan njelimet. Kalimat-kalimat yang dirangkainya memang rata-rata panjang, namun sangat detail dan menjelaskan isi cerita. Tidak sulit bagi kita untuk membayangkan setting cerita, hingga kedalaman karakter masing-masing tokohnya. Sampai-sampai saya berimajinasi kalau saja ada filmnya, pasti saya mau nonton.

Berbagai karakter yang digambarkan di novel ini sebenarnya ada dalam kehidupan kita, dan LaVyrie menggambarkannya dengan sangat baik. Kita seolah dibawa masuk ke dalam kehidupan seseorang, menjadi saksi tak terlihat, dan ikut terlibat akan setiap kejadian yang dialami Will dan Elly. Sangat menyentuh dan mengharukan.

Terkesan menye-menye? Biarkan….jadikan saja novel ini hiburan yang menceriakan dan meringankan hati, dan nggak bikin otak mikir kepanjangan apalagi kalau akhir ceritanya menggantung, hehe…

Sangat direkomendasikan untuk para pembaca pencari cinta sejati…cieeeee….^^

Happy reading, yaaa:)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s