Cerita di balik Kemeja Flanel

Sekian kali membereskan lemari pakaian, sekian kali pula mata saya tertumbuk pada tumpukan kemeja kotak-kotak yang tersusun rapi. Semuanya sudah tidak saya pakai, kecuali jika momen-nya memang sesuai. Di ketinggian pegunungan, udara dingin di bawah 5 derajat celcius, suasana perkemahan, aroma hutan, dan segala macam pernik dunia per-kemping-an. Paling matching pakai kemeja flanel sama celana jins atau celana lapangan yang bersaku banyak. Sepatu boots atau sandal gunung, plus bandana. Heu, jadul 😀

TaylorLautnerinplead2_zps1f17bfab
taylor lautner. ehhhh, gagal fokus deh haha

Etapi ternyata enggak juga, deng. Rupanya jaman sekarang pun masih ada anak PA yang setelannya model begini. Nii, diaaa —>

Siapapun yang mengenakan kemeja flanel, jatuhnya pasti lebih keren. Keliatannya, hehe. Tapi bener lho, efek kotak-kotak itu mungkin memang begitu ya^^ Sejauh yang pernah kita lihat, pemakai kemeja flanel rata-rata pekerja lapangan yang bersentuhan langsung dengan kegiatan luar ruang. Dan itu nggak cuma berlaku untuk laki-laki, kaum perempuan pun nggak kalah kece saat tampil ber-flanel ria. Agak nyontek gayanya Inne Febriyanti juga di sinetron Dewi Selebriti jaman dulu itu, lho.

Menurut wikipedia, Kemeja flanel memiliki rekam jejak yang panjang dan menarik. Kata flanel berasal dari bahasa Wales, yaitu gwlanen, yang artinya “bahan wol”.

Menurut sejarah, flanel tercatat ditemukan pada awal abad ke-16 di Wales, dengan sebutan flannelette. Pada saat itu para petani memakai pakaian hangat yang agak tebal untuk melindungi diri mereka dari cuaca dingin dan rerantingan pohon. Di Perancis, istilah flanelle dipakai di akhir abad ke-17. Dan pada awal abad ke-18, di Jerman menyebutnya flanell. Dalam bahasa Inggris ditulis flannel. Dalam istilah Sunda, entah bagaimana, jadilah Flanell ini disebut sebagai KAIN PERNEL. 

Awalnya flanel diproduksi secara tradisional dan rumahan. Dibuat dari benang wol yang di-garuk pada proses finishing-nya. Di abad ke-18, sejalan dengan adanya Revolusi Industri, terjadi perubahan besar-besaran di dalam praktisi industri. Flanel mulai di produksi secara massal dan menjadi produk pabrikasi.

Mengikuti perkembangan jaman, dan mempertimbangkan biaya bahan baku yang tinggi, bahan wol lambat laun mulai digantikan dengan serat kapas (cotton), campuran sutera, dan serat sintetis.

Pada tahun 1889, seorang asal Michigan, Amerika Serikat, yaitu Hamilton Carhatt (1855-1937) mendirikan perusahaan yang dinamakan Carhatt. Carhatt mengklaim sebagai yang pertama kali menemukan kemeja berbahan flanel, termasuk motif kotak-kotak yang terinspirasi dari Kilt, pakaian tradisional Skotlandia.

Carhatt berusaha untuk menciptakan pakaian tahan banting, yang nyaman dipakai, namun tetap berkarakter, untuk para pekerja lapangan yang aktif. Pada awalnya mereka membuat pakaian flanel ini untuk para engineers yang bekerja di jalur kereta api.

Pada awal abad ke-20, flanel tidak hanya diproduksi untuk cuaca dingin, tetapi mulai disesuaikan dengan musim-musim yang ada. Dengan memaksimalkan pencampuran kapas (cotton) dengan sutera, flanel kini menjadi lebih tipis dan ringan. Sehingga kemeja flanel dapat digunakan di cuaca yang hangat.

Di abad yang sama, flanel masuk ke Amerika Utara. Flanel dengan motif kotak-kotak diidentikkan dengan para pekerja kasar, pekerja lapangan, terutama petani, gembala, pekerja tambang, penebang pohon, dan mereka yang bekerja di luar ruangan. Daya tahan dari bahan flanel, kemudahannya untuk dicuci, dan juga kehangatannya, memungkinkan mereka bebas bergerak dan bekerja dalam jangka waktu yang lama di dalam suhu yang dingin. Sejak saat itu, para penebang pohon identik dengan kemeja flanel dan sepasang sepatu boots. Hm, penebang pohon ya….

Pada saat Perang Dunia I pecah di tahun 1914, flanel digunakan sebagai seragam dan selimut di medan pertempuran. Dan juga digunakan sebagai bahan alternatif pengganti perban di rumah sakit. Dan ketika perang berakhir, dunia berubah. Perbedaan antar-kelas di masyarakat menjadi bias. Selama Great Depression yang datang mengikuti Perang Dunia, kemeja flanel yang pada mulanya identik dengan kalangan kelas bawah, lambat laun naik kasta dan menjadi milik seluruh lapisan sosial. Pada masa ini pula, kemeja flanel diidentikkan dengan kelaki-lakian.

Pada tahun 1939, Red Flannel Day mulai dilaksanakan secara rutin di Cedar Springs, Michigan, setelah kota tersebut menjadi terkenal di seluruh negeri karena memproduksi sweater berbahan flanel warna merah. Kota ini masih merayakan Red Flannel Festival sampai sekarang, jatuh pada weekend terakhir di bulan September dan weekend pertama di bulan Oktober, masih deket-deket sama waktu dimana tulisan ini dibuat.

Pada tahun 1963, The Beach Boys kembali membuat kemeja flanel ini terkenal, setelah mereka berpose mengenakan kemeja flanel sambil mengangkat papan luncur untuk cover album mereka, “Surfer Girl”. Meskipun sebenarnya kalo menurut saya sih, kurang cocok sama suasana pantai, ya, hihi…Saltum nii The Beach Boys, harusnya pake celana pendek merah kalo perlu dan gak pake baju. Setelannya David Hasselhoff gitu lah 😀


Di awal 1990-an, group band asal Seattle, Nirvana (yang di motori oleh Kurt Cobain) dan Pearl Jam mempopulerkan kembali kemeja flanel dengan motif kotak-kotak. Masa keemasan grunge saat itu ditandai dengan perubahan pola berpakaian di kalangan anak-anak muda. Tidak ada lagi jaket kulit yang sempat berjaya oleh kalangan glam rock. Trend beralih, mereka beramai-ramai mengenakan kombinasi kemeja flanel, jeans, dan sepatu boots juga sneakers. Masa-masa ini merupakan masa dimana saya mulai menyukai seseorang berpenampilan kemeja flanel lengkap dengan tampilan tampang lusuh tapi ganteng, hehe. Aih, masa lalu. Jadi kangen nonton serial-serial lawas lengkap dengan style fashion yang rata-rata setipe ini. Beverly Hills , Northern Exposure, Melrose Place, mmmm, apalagi ya? Oh, plus liat videonya Pearl Jam Nirvana yang akustikan di MTV Unplugged. Beuh…

Masih banget pengen pake baju flanel yang bikin badan ga keliatan kayak ikan buntal. Masih banget pengen bergaya semodel jaman gendong-gendong ransel carrier setinggi badan plus jins dan sepatu boots atau sneakers. Tapi inget umur sekarang mah, hihi….. Kemeja flanelnya dipake bobo aja gitu ya? 😀

-W-

Advertisements

4 thoughts on “Cerita di balik Kemeja Flanel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s