Mencapai CURUG MALELA, siapkan pula Hati yang Rela

Judul di atas saya pilih bukan tanpa sebab. Ingin tahu kenapa? Harus Rela juga untuk baca dulu kelanjutan tulisan ini, dong, ya!

11159563_10205484166481679_1143762099081514379_n

Hari yang cerah untuk jiwa yang cerah, begitu kata judul lagu terkenal itu. Harusnya sih, sepanjang hari cerah, tapi hujan yang mengguyur kami di setengah perjalanan menuju Curug Malela, agak sedikit membuat patah hati. Keindahan Curug atau air terjun yang selama ini kita dengar bisa jadi akan tidak lagi terbayang indahnya karena hujan tak juga berhenti. Rute yang kami ambil pun kali ini bukan jalur ‘normal’ melalui jalan raya Cililin menuju Gunung Halu, melainkan melalui jalur ‘tembus gunung-hutan’ via Panundaan di Ciwidey.

Oya, tempat pastinya Curug Malela ini berada di Desa Cicadas Kecamatan Rongga-Gunung Halu Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Cukup populer di kalangan pecinta wisata alam, tapi rupanya masih cukup asing di telinga wisatawan lokal. Padahal banyak yang bilang kalau tempat ini menjanjikan pemandangan yang setimpal dengan kerja keras untuk mencapainya.

Sebenarnya kerja keras itu sudah dimulai sejak Landrover yang membawa kami memasuki Panundaan —jalur alternatif melalui Ciwidey ke Gunung Halu —mengguncang-guncang tubuh kami dengan sesuka hati. Kendaraan hanya mencium Jalan aspal sesekali dan itupun tidak mulus, bertemu lagi dengan dengan jalan tanah berbatu kerikil yang tertimpa hujan gerimis, dan melewati tikungan-tikungan tajam berdinding tebing bersisian dengan jurang curam menyusuri kampung-kampung kecil sederhana. Sawah menguning dengan para petani yang tengah panen meski gerimis menyambut kami ketika memasuki area persawahan.

Padi Menguning sepanjang Jalan tembus

Padi Menguning sepanjang Jalan tembus

Arusnya deras, asik juga buat 'tubing' atau rafting

Anak sungai Ciwidey mengalir deras dengan air berwarna kecoklatan dan batu-batu besar sisa letusan gunung bertebaran di banyak tempat. Ocehan sekilas di mobil seputar, “ni batu boleh juga jadi batu akik yaaaa,” jadi bahan senda gurau yang konyol-konyol asoy. Terbayang seperti apa modelnya kalau kami nekat mencongkel batu raksasa itu untuk dijadikan hiasan di taman rumah, misalnya.

Areal hutan sempat bikin meringis karena suramnya. Suram karena gerimis belum juga berhenti. Matahari enggan muncul lama-lama, yang muncul malah dua pemburu menggotong celeng hutan berukurun lumayan besar diiringi anjing-anjing mereka. Jujur saja, selain di kebun binatang, mungkin yang namanya celeng baru bisa ditemui di kawasan semacam ini. Tak lama setelah itu, berkali-kali penggembala kerbau berikut kerbaunya berpapasan dengan kami. Oya, dan anak-anak kecil seumuran SD kelas 3 dengan leluasa mengendarai motor metik. Ajib banget, dah.

Kurang lebih 3 jam bermobil, suasana yang agak ‘ngota’ mulai terasa. Landrover memasuki area Pabrik Teh Montaya. Kebun teh Montaya adalah perkebunan teh milik PT Perkebunan Nusantara VIII. Perkebunan teh ini telah berdiri lebih dari satu abad yang lalu, yaitu pada tahun 1908. Dulu, pemiliknya adalah seorang pengusaha berkebangsaan Belanda. Setelah melewati berbagai perubahan seiring bergulirnya zaman, dengan beberapa catatan sejarah yang mewarnai, kebun teh Montoya akhirnya menjadi milik pemerintah Indonesia. Kebun teh Montoya membentang dalam areal seluas lebih kurang  1.194,00 hektar. Suasana klasik khas peninggalan Belanda sangat terasa. Sayang sekali, perkebunan ini belum dikelola sebagai area Agrowisata sebagaimana halnya perkebunan Teh Walini. Aroma perkebunan teh yang segar seperti ini pastinya membangkitkan selera makan.

C360_2015-05-03--11-56-58-154

Untunglah, tak jauh dari gerbang perkebunan, kami langsung bertemu dengan sebuah rumah makan. Suasana rumah makan sederhana yang letaknya berdampingan dengan Gedung PGRI Gunung Halu ini menu makannya pun klasik sekali. Sangat nyunda. Tumis kentang, Ayam Serundeng, Goreng Tahu, Goreng Tempe, Opor Telur Ayam, lalapan plus sambel goreng terasinya, pooollllllll!!! Rasanya seperti makan masakan khas lebaran kalo Mak Nini yang buat 😀

C360_2015-05-03-13-52-42-162

Usai makan siang, perjalanan kami lanjutkan kembali dengan perut terisi. Menembus areal perkebunan Teh Montoya serta melewati berbagai hal membuat kami menikmati perjalanan dengan lebih optimis, meskipun waktu berjalan terus dan gerimis tak juga berhenti. Mini market “A” dan mesin ATM menjadi pelipur lara akan suasana desa ketika kami memasuki daerah Jalan Raya Kecamatan Gunung Halu. Hiburan lainnya yang berpapasan dengan kami adalah sebuah pasar malam yang kebetulan tengah mampir di desa Cicadas. Lengkap dengan Ombak Banyu dan Korsel sederhana 🙂

Memasuki daerah Rongga, desa Cicadas, aroma tualang mulai terasa lagi. Jalan tanpa aspal, penunjuk jalan bertuliskan “CURUG MALELA 9 KM” serta arah yang mulai menanjak membuat jantung berdebar lebih cepat. Antara perasaan senang karena akhirnya sudah mau tiba di tujuan, dengan perasaan khawatir, takut terjadi apa-apa dengan kendaraan. Makanya, kondisi kendaraan yang prima serta pengemudi yang handal sangat menjadi andalan bagi Anda yang berminat menjejakkan kaki di Malela. Lebih bagus lagi jika kendaraan yang digunakan adalah kendaraan jenis penjelajah jalan non aspal.

Dari sini, pemandangan terlihat lebih indah. Seperti melihat lukisan buatan pelukis handal. Sawah menguning berundak, pepohonan berbunga kuning segar tampak rimbun ( saya menyebutnya bunga wallpaper, karena kelihatannya bakal cocok untuk dijadikan wallpaper laptop), dan kebun serai di sepanjang pinggiran jalan. Harum serai segar menyertai sepanjang jalan menanjak. Di 3-4 KM terakhir jelang Curug Malela, jalanan semakin menantang.

Kubangan-kubangan besar ditambah gerimis yang belum juga berhenti mengajak tubuh terus berguncang mengikuti irama Landrover yang seakan menari bersama jalan yang aduhai ini. Kecepatan harus di atas rata-rata agar terasa guncangannya. Ini baru off road namanya …. (meskipun belum sebanding dengan kubangan-kubangan ala Sukawana – Lembang). Merusak jalan? Rasanya enggak, deh….’Kebetulan’ jalannya memang sudah asoy….

DSC_7852

2 KM jelang TKP, kami berpapasan dengan beberapa motor yang sedang membantu motor lainnya untuk maju. Kami ke arah naik, mereka ke arah turun. Masing-masing motor membawa kira-kira 3 karung padi yang siap digiling. Stang naik tinggi, ban pakai rantai, gas pooll  menembus lumpur!! Menurut ibu Inah, penjaga warung yang sempat saya ajak mengobrol di warung Curug Malela tempat kami menikmati seseruput teh panas, satu ojek motor pengangkut padi kira-kira memakan biaya 150rb sekali angkut, dan 1,2 juta kalau diangkut dengan mobil bak terbuka. Harga yang memang sesuai dengan medan yang berat, apalagi di musim hujan. Kalau yang diangkut bukan padi, alias kita manusia, biayanya kurang lebih 75rb-an.

DSC_7863

Makin hujan, makin berlumpur saja jalanan. Beberapa lelaki sudah siap membantu jika mobil selip atau mogok ketika kami siap untuk memarkirkan mobil. Hanya ada dua warung dengan posisi saling berhadapan di pelataran parkir masuk ke area Curug. Hati sudah agak plong, sudah semakin dekat saja dengan TKP. Tapi kok ya tidak terdengar suara gemuruh air khas air terjun ???

Begitu turun dari mobil, tanah gembur berwarna coklat kemerahan khas pegunungan langsung lengket menempel di alas kaki. Bagusnya sih, kalau musim hujan model begini pakai saja sepatu bot, sama seperti yang dipakai penduduk setempat. Pas untuk medan berlumpur. Tak jauh dari situ, sekitar 1 jam perjalanan meniti tangga semen yang sudah tidak utuh lagi siap menanti kita menuju warung peristirahatan. Becek, licin, berpotensi untuk bikin kita tergelincir dengan nikmat, dan udaranya membuai kita untuk menyanyikan lagu riang supaya lelahnya tidak terasa.

Dan akhirnya…taraaaaa !!!!

Selamat Datang di Curug Malela 🙂 Cuma sayang, terhalang kabut….

Bu Inah, penjaga warung tempat kami istirahat bercerita bahwa memang setiap kali hujan, air terjun akan tertutup kabut untuk waktu yang cukup lama. Namun entah bagaimana, doa kami agar kabut segera pergi supaya kami bisa melihat indahnya air terjun Malela, ternyata terkabul ! Alhamdulillaahh…..sedikit demi sedikit, kabut mulai menyingkap keindahan Curug Malela. Baru bisa melihat dari jauh, karena kalau mau merasakan segarnya air sungai dari dekat, masih harus berjuang lagi, sodara! Wujud  Malela sudah terlihat jelas dari kejauhan, super indah. Naaaah, 50 menit berikutnya blusukan lagi lewatin sawah dan lumpur. Kebayang beratnya lewat jalan menurun yang licin karena lumpur plus harus berjuang untuk jalan dengan kaki berat penuh lumpur, apalagi sambil menggendong ransel. Betis udah kenceng banget, dengkul gemeteran, paha ngilu…tuh udah paling pas. (percayalah pada saat jalan balik, deritanya dikalikan 2 ditambah ngos2an akut, hahaha….)

Aroma dari Kopi panas, mie seduh, dan buah pinus mengelilingi suasana tempat kami beristirahat  di warung Bu Inah. Bukan warung besar, hanya sebuah meja berukuran sedang yang dipenuhi beberapa merk air mineral dan mie instan saja. Minuman instan yang biasa tinggal seduh menggantung di atas meja. Beberapa pengunjung yang muncul dari arah air terjun susul menyusul berdatangan dengan agak terengah-engah mendaki jalan setapak. Kaki ‘jeblog’ penuh dengan tanah basah yang lengket di sandal gunung mereka menjadi bukti seperti apa medan yang harus ditempuh jika ingin turun menyentuh air sungai.

Bu Inah bercerita tentang para pengunjung yang sengaja berkemah di pinggir sungai, rata-rata memakan waktu dua hari agar terasa puasnya menikmati alam di sekitar curug. Bagi para pemburu objek foto, area ini adalah surga yang tersembunyi. Setiap titik adalah objek, setiap kedip adalah indah dan berharga. Nggak lebay, ini nyata ( Kadang ada juga beberapa anggota komunitas fotografi yang sengaja menyempatkan waktu untuk menanti datangnya matahari terbit disini.

Ada kisah yang agak ‘spooky’ dari Bu Inah di hari itu, bahwa beberapa pengunjung bertanya tentang keberadaan sebuah rumah di dekat air terjun. Kilau lampu pijar ‘katanya’ terlihat dari kejauhan, di suasana remang sore. Padahal menurut Bu Inah, tentu saja tidak ada satu rumah pun di dekat air terjun, karena tempat tersebut masuk area hutan.

Gerimis mulai turun lagi, dan kabut perlahan menutupi lokasi air terjun. Waktu menunjukkan jam setengah empat sore. Sudah cukup gelap untuk ukuran daerah hutan seperti ini. Pemilik warung sudah mulai membereskan barang-barang dagangannya, dan kami pun bersiap untuk kembali ke mobil. Cukup sudah mengambil foto yang indah di sekitar sini. Pecinta alam sejati harus selalu ingat yang satu ini : Jangan bawa apapun selain foto, Jangan tinggalkan apapun selain kenangan. Ceileee….PA ni yeee, Pecinta Alam, hehehe…

 

????????????????????????????????????

Kembali menapaki jalan yang licin dengan arah naik yang cukup bikin ngos-ngosan, suara serangga hutan yang mulai nyaring tanda hari mulai gelap, serta udara yang lebih dingin daripada tadi, mengantar kami pulang ke peradaban. Di warung besar yang terletak di area parkir, kursi warung dipenuhi dengan para pengunjung yang siap pulang sama seperti kami. Kebanyakan nekat memakai motor metik, yang sebenarnya sudah terbayang juga seperti apa tantangan yang akan mereka hadapi di jalan pulang dengan kondisi gerimis tanpa henti. Pada saat yang sama, rupanya ada juga pengunjung yang baru tiba sesore itu. Sepertinya memang pehobi otomotif penjajal jalan berlumpur alias offroader juga, melihat tampilan mobilnya yang aduhai sama belepotannya seperti kendaraan kami.

Meskipun butuh tenaga ekstra untuk melepaskan diri dari tempat parkir dan kembali berguncang-guncang asoy mengikuti kontur jalan yang menantang, tapi kami pastikan bahwa ini bukan perjalanan terakhir ke Curug Malela. Dengan RELA hati, semoga bisa kembali saat cuaca cerah dan tanpa lumpur:)

 

DSC_7927

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s