KOMPETISI

kiddos dan seorang rekan guru. Me ? I'm the one behind the camera ^^

kiddos dan seorang rekan guru. Me ? I’m the one behind the camera ^^

Semester kedua di sekolah adalah masa-masa berpacu dengan waktu dan energi. Masa-masa KOMPETISI telah tiba. Seolah tak ada waktu istirahat. Otak terus berputar, energi terus keluar, dan tau-tau tubuh terasa sangat lelah. Memang sih, lumayan puas. Bahkan sangat memuaskan ketika kemenangan berada di tangan kita. Tapi itu hanya sesaat saja. Karena setelah itu otak dan energi kembali berpacu untuk menghasilkan karya untuk naik ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

No no no. I’m not Complaining. I’m just telling you a story about competition. Tanpa saya sadari saya suka menjalani kompetisi. Apapun itu. Sejak kecil energi saya terpacu untuk menjadi yang terbaik dan melebihi kemampuan orang lain untuk berprestasi. Yang paling membanggakan, hmmm…(ingat-ingat dulu) sempat juara 1 baca cerpen tingkat provinsi jabar lho di Perpusda Jabar waktu SMA, heu…sama vokalis terbaik festival band Itenas taun kapaannn gitu…*nyimbingdikit 😀 Nah, ketika kembali bertemu dengan segala rupa kompetisi di sekolah tempat saya mengajar, rasanya seperti botol ketemu tutupnya yang lama hilang. Anak-anak yang berbakat, dipoles sana-sini, dikasi ilmunya, daaannn…taraaaaaa!!! Selamat, ada juara baru, nih!

Ehhh, tapi nggak sesederhana itu juga, kok. Prosesnya panjang dan melelahkan. Dan tidak semua bibit menjanjikan keberhasilan. Belum lagi menghadapi emosi mereka yang naik turun. Saya sendiri lebih sering bertemu dengan anak-anak yang ‘pundungan’ kalo orang sunda bilang. Pundungan itu artinya kurang lebih kalau dikasi tahu atau diberi bimbingan malah ngambek. Mana ngerti mereka tentang waktu dan energi yang sudah dikeluarkan oleh para pembimbing. Yang saya rasakan tahu-tahu timbangan badan naik drastis atau turun drastis. Gara-gara kecapean dan makan nggak teratur. Apalagi kalau semua di-handle sendiri. Lumayan bikin keringetan tiap hari, hehe. Itu capeknya. Senengnya? Banyak juga lah. Siapa yang nggak bangga anak bimbingan kita meraih prestasi tinggi di kompetisi. Dari tingkat kelas, naik ke tingkat sekolah, naik lagi ke antar sekolah di gugus, lalu ke tingkat kecamatan, maju lagi ke tingkat kabupaten, sampai ke tingkat provinsi. Emmm….alhamdulillah, baru sampai tingkat provinsi, hehe. Jagoan saya tuh, kategori pendongeng cilik. Bangga banget 🙂

Yang jadi masalah adalah penerus yang seharusnya ada. Pembibitan terus dijalankan, tapi mencari bibit berprestasi dengan mental juara itu sangat nggak gampang. Usahanya double triple! Nggak ada hasil bagus tanpa usaha yang mumpuni. Apapun perlu proses. Tidak setiap kompetisi harus menghasilkan juara. Karena selain usaha, faktor LUCK juga biasanya seiring sejalan, hehe. Kalo anak kita tampil bagus (bidang apapun itu), kalau jurinya nggak jodoh, ya sudah…bye bye juara deh jadinya:) Walau bagaimanapun, semua bekerja keras. Mau menang atau kalah, selama kita berusaha sebaik yang kita bisa, Insya Allah, kesuksesan itu pasti mengikuti, entah sekarang, entah tahun depan. Jadi, kalau tahun ini jadi underdog, siapa yang tahu kalau tahun depan jadi jawara! Chayooooo !!!

Advertisements

2 thoughts on “KOMPETISI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s