Di Radio, aku dengar….lagu kesayanganmu…:)

Masih inget lagu siapakah itu yang liriknya saya tulis jadi judul tulisan ini?? Mau coba tebak…??

Yak, betulllll!!!! Yang mempopulerkannya alm. Gombloh di tahun 80 sekian, trus Glenn Fredly duet maut sama Jamie Aditya di tahun 2000an. Lawas, iya. Norak? Biarin ah, toh lagu ini menjadi bagian dari sejarah musik dan radio juga, dong. Apa? ngakunya gak suka denger radio? Dih, rugi amat….padahal sebelum ada internet di genggaman kita, radio juga menjadi bagian dari sejarah bangsa, lhoooo! Cobaaaaa, dengerin radio aaahhhh….

Dari ujung frekwensi ke ujung frekwensi lainnya. Semua saya dengarkan satu per satu. Orang rumah bilang, ‘gak ada kerjaan’. Hehe, iya kali ya. Kurang kerjaan. Tapi justru karena sekarang saya ada kerjaan lain yang membutuhkan indra dengar saya untuk bekerja tambahan makanya dengar radio menjadi lumayan penting. Selain menulis, hal lain yang saya suka lakukan saat ini adalah membuat patchwork. Meskipun belum begitu serius dan masih pemula, tapi lumayan makan waktu. Dan akan terasa lebih menyenangkan jika ada radio sebagai teman saya.

Dari ujung ke ujung pula mencari radio yang pas, mencari penyiar yang enak siarannya. Enak suaranya, enak pula cara penyampaiannya. Hmmm…agak sulit juga. Apalagi sebagai sesama penyiar, saya pasti akan agak kritis menyimak kualitas seorang penyiar. Tapi sayangnya, cara kita menilai kualitas seorang penyiar agak terganggu dengan gaya bersiaran radio (di Bandung khususnya) sekarang ini. Serba cepat, serba simple, serba ringan, serba pendek. Ngomong dibatasi. Lagu diatur. Durasi apalagi. Makin cepat makin baik. Punchline is a must. Semakin serasa bukan dengerin radio Bandung, deh… *garukkepalagakgatel

Semakin gak enak begitu dengar satu radio ada acara yang diulang-ulang satu segmennya di sepanjang hari. Aih. Lumayan mabok juga dengernya. Sampe hapalllll…..hehehe. Atas nama perubahan, pembaharuan, penyegaran, kemudian banyak radio di Bandung yang memilih kehilangan jatidiri, tidak konsisten dengan keberadaan yang menjadi ciri khas mereka selama ini. Sebagai seorang dewasa yang hidup dan menikmati lagu-lagu hits (sebagian) tahun 70an, tahun 80an, 90an dan 2000an, perlu sedikit perjuangan untuk mencari radio setipe ini. Semakin hari semakin terdengar kuat, yang mana yang punya konsistensi dan yang mana LABIL.

Yang LABIL inilah yang makin banyak. Yang agak dilupakan para pengelola radio adalah bahwa KONSISTENSI adalah bekal hidupnya untuk bisa sukses dan tetap dikenal orang selama bertahun-tahun. Sayang sekali jika konsistensi itu digadaikan atas nama marketing. Banyak contoh sukses, meski ada pula yang tumbang karena mempertahankan konsistensi itu. Yaah, itu mah, kitanya yang kudu pinter ngatur strategi supaya bisa survive di rimba kepenyiaran. Gak semua pendengar bisa pahan tentang ini, padahal konsistensi ini penting bwanget. Seorang sahabat menjadi penggila radio X di Bandung sejak tahun 80an, nemenin masa sekolah, kuliah, dan pastinya jaman pacaran, hihi. Kemudian berangkatlah doi merantau ke belahan dunia lain selama bertahun-tahun, luput dari radio itu untuk sementara, hingga teknologi streaming mulai populer. Dan menangislah doi ketika didengarnya radio itu berubah menjadi radio entahlah, dengan segmen yang entahlah, penyiar yang entahlah, lagu yang entahlah. Atas nama perubahan demi keberlangsungan hidup dan persaingan, radio tersebut memilih menjadi bunglon.

Satu bukti bahwa radio bernafas konvensional masih dinanti dan dicari. Yang tidak takut persaingan, tetap smart menghadapi kemajuan jaman, tapi juga tetap care terhadap penggemar, bukan cuma tunduk pada si pemberi order (iklan). Radio bukanlah sekedar musik player, tapi lebih dari itu. Hanya kita yang merasakan itu yang bisa jawab. Itu saya…kalo kamu???

-W- image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s