Bermalam bersama Musikalisasi Puisi

Saya rindu HUJAN untuk saat ini. Hujan rintik saja, atau hujan gerimis pun boleh. Hujan yang sendu. Hujan yang menjadi inspirasi banyak penulis skenario sinetron atau film untuk menjadikannya bagian adegan, hujan yang juga menjadi sumber tulisan bagi para penulis cerpen/novel dan puisi. Hujan yang juga menjadi inti cerita dari lagu-lagu populer.

Setiap orang pun pasti memiliki momen hujan mereka masing-masing. Mulai dari yang indah sampai yang ingin sekali dihapus dari ingatan. Mungkin itu juga yang membuat Sapardi Djoko Damono (SDD) begitu mencintai momen ini yang menjadikannya terinspirasi menulis berbagai puisi bertemakan Hujan.

Puisinya cantik. Sederhana namun menyentuh. Seperti yang ini :

HUJAN BULAN JUNI


Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(1989)

 

Dan lebih sempurna lagi puisi itu ketika bersentuhan dengan musik. Tahun 1997 lalu saya tak sengaja menemukan lagu cantik dari OST. Cinta dalam Sepotong Roti (1991) yang dibintangi Adjie Massaid, Tio Pakusadewo, Monica Oemardi dan Rizky Teo (kakaknya Cut Mini–duh, langsung jadi inget sama majalah Mode~~) . Film ini menyertakan banyak puisi-puisi SDD, dan membuat saya (dan penggemar SDD lainnya) jatuh cinta pada kata-kata sederhana yang bertebaran di setiap puisinya.

Lagu yang mengambil lirik dari puisi SDD yang berjudul Aku Ingin inilah menjadi pemicunya.


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada


Ags. Arya Dipayana memusikalisasi lagu ini dan menjadikannya lebih bernyawa. Di masa yang lain, saya dipertemukan dengan musikalisasi puisi SDD versi Reda Gaudiamo dan Tatyana Soebianto sebagai Duet Dua Ibu. Tak kalah indah, bahkan cenderung membuai dengan suara mereka yang syahdu. Lengkap dengan petikan gitar akustik yang semakin menegaskan kesederhanaan puisi SDD. Soundtrack yang cocok untuk menikmati malam sepi, atau suasana berkemah di pegunungan yang dingin lengkap dengan api unggun.

Hatiku Selembar Daun

Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak…
Terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang,
yang selama ini senantiasa luput;
Sesaat adalah abadi sebelum kausapu
tamanmu setiap pagi…
KETIKA JARI-JARI BUNGA TERLUKA
Ketika Jari-jari bunga terluka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu matasuatu pagi, di sayap kupu-kupu
disayap warna, suara burung
di ranting-ranting cuaca
bulu-bulu cahaya
betapa parah cinta kita
mabuk berjalan diantara
jerit bunga-bunga rekah…Ketika Jari-jari bunga terbuka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata


HUTAN KELABU

kau pun kekasihku
langit di mana berakhir setiap pandangan
bermula kepedihan rindu itu
temaram kepadaku semata
memutih dari seribu warna
hujan senandung dalam hutan
lalu kelabu menabuh nyanyian

GADIS KECIL

Ada gadis kecil diseberangkan gerimis
di tangan kanannya bergoyang payung
tangan kirinya mengibaskan tangis
di pinggir padang, ada pohon
dan seekor burung

 

Tarik napas dulu, ya….

 

Terkadang, membacanya saja membuat sesak. Tapi mendengarkan bentuk musikalisasinya justru membuat damai,meski kadang datang perih (idiih…).

O ya, dulu saya sempat tak yakin kalau Reda Gaudiamo yang berduet dengan Tatyana Sebianto atau juga ada yang berduet dengan Ari Malibu ini, adalah orang yang sama dengan nama seorang perempuan yang sering saya temukan di bagian redaksi sebuah majalah perempuan kaum urban. Tapi setelah bersapa ria di Twitter (dan membaca blognya), barulah saya yakin, bahwa ini adalah Reda Gaudiamo yang sama :) Senang, pastinya—dan bangga, bahwa ternyata meskipun bergaul di dunia hedonis (pendapat pribadi ini mah), Reda Gaudiamo adalah seseorang yang bisa menghargai puisi khususnya karya SDD dengan interpretasi yang indah.

Beberapa waktu yang lalu saya memperdengarkan lagu-lagu musikalisasi ini pada seorang kawan di radio tempat saya bekerja, Yafi Alawy — penyiar acara lagu-lagu indie. Kelihatannya cukup terkesan, sih, dan saya memintanya untuk sering-sering menutar lagu-lagu ini bergantian di tiap minggunya. Sepertinya, sih, permintaan itu dikabulkan, hehe. Tinggal tunggu waktu kapan bisa mengundang Reda Gaudiamo atau Tatyana Soebianto atau Ari Malibu ke radio kami. Atau kalau mungkin, bertemu langsung dengan SDD. Setidaknya, inilah salah satu usaha saya agar generasi sekarang tertarik pada puisi seperti saya dulu.

 

DALAM DIRIKU


Dalam diriku mengalir sungai panjang,
Darah namanya;
Dalam diriku menggenang telaga darah,
Sukma namanya;
Dalam diriku meriak gelombang sukma,
Hidup namanya!
Dan karena hidup itu indah,
Aku menangis sepuas-puasnya

(1980)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s