Segelas Kopi dan Secangkir Teh

Seharusnya sore ini aku sendirian. Menikmati senja yang mendung dengan angin dingin mulai bertiup tipis membelai kulitku. Suara pintu kaca geser pondok terbuka oleh seseorang membuat acara sembunyiku hari ini agak gagal. Kusimpan buku yang tengah kubaca dan bangkit dari sofa untuk melihat siapa yang masuk. Ternyata itu Kau.

“Maaf aku tidak mengabarimu….tiba-tiba saja muncul seperti ini,” suara  beratmu memecah hening di antara kita. Aku mencoba tersenyum tapi mungkin yang terlihat bukan senyum tulus. Ah, sudahlah. Kau datang, itu yang penting.

Dalam waktu singkat sepatu bootmu sudah berganti dengan sandal rumah  yang biasa kau pakai di pondok ini. Kau sudah terbiasa dengan pondok ini. Sudah seperti bagian dari hidupmu selama ini. Yang datang dan pergi semaunya, seperti kali ini. Datang tanpa basa basi.

“Semoga aku tidak mengganggu, Ari. ” Katamu, menaruh ransel beratmu di sudut ruangan, lalu menghempaskan badan lelahmu di sofa tempatku membaca buku tadi.

Tubuhmu berbalut Kemeja flanel kotak-kotak, dan celana jins yang entah sudah berapa hari tidak diganti, lengkap dengan aroma hutan. Menguar lembut membuka pori-poriku. Membuatku ingin memelukmu. Erat…

“Apa kabar?” kataku akhirnya. Pelan, setengah tercekat. Agak parau. Mungkin Kau tak mendengar, karena suaraku kalah keras dibanding suara Michael Franks menyanyikan The Lady Wants To Know dari pemutar musik.

“Aku baik, seperti kau lihat,” kau tersenyum,”Kau sendiri bagaimana, Ri?”

Aku mengangkat bahu, bingung juga mau jawab apa. “Sama, seperti yang Abang lihat. Abang dari mana , sih?”

“Ada proyek di Sorong, dan besok aku harus ke Jakarta, tapi aku mampir dulu ke sini. Ada kopi?” Ah, tentu saja, a glass of coffee is a must, Jalu.

“Kau tidak membuat minum?” tanyamu sambil melihat ke meja tempat buku yang sedang kubaca tadi. Memang aku sedang malas membuat minuman untukku sendiri. Padahal di luar sana mendung sudah berganti menjadi gerimis tipis. Secangkir teh panas beraroma kayu manis rasanya pasti akan pas.

“Biar kubuatkan, ya…” katamu lagi, bangkit dari sofa, lalu mengambil gelas yang biasa kau pakai dan cangkir favoritku di bar. Gelas jaman nenek moyang, kataku dulu. Gelas kaca tebal dengan aroma segar sabun cuci piring. Mengambil kopi dan teh di tempat biasa yang dia tahu tempatnya dimana, dan menyeduhnya dengan rokok yang belum tersulut terjepit di bibirnya.

Pemandangan yang akan kurindukan. Lelaki berbadan tegap membuatkan teh panas untukku dan kopi untuk dirinya sendiri. Diantara lelahnya yang tersembunyi di balik wajah kerasnya.

“Teh kayu manis untukmu….” kau menyodorkan cangkirku dengan teh yang masih mengepul panas,” …dan kopi hitam untukku.” Kau menghirup kopimu yang hitam kental itu dengan sepenuh hati. Matamu terpejam menikmati aroma pekat yang sesungguhnya sangat kunantikan di pondok ini.

Aroma kopimu memabukkan. Membawakanku kenangan beribu rindu pada masa lalu. Mengiris bagai sembilu, Jalu.

Kau menatapku dalam diam kita. Aku balas menikmati percakapan kita yang tanpa suara. Mata coklatmu yang tajam seakan menembus ke jantungku yang tak henti berdetak kencang sejak kau datang tadi.

“Sedikit sekali bicaramu hari ini, Ari…apa yang salah denganku? Lama kita tak jumpa dan sedari tadi kau hanya diam saja…”

Aku tersenyum tipis. Menikmati seteguk teh yang kau buatkan, dan mensesap harum aroma kayu manis dari teh. “Teh buatanmu selalu enak…dan kopimu selalu menguar harum yang berbeda, langsung memenuhi ruangan ini,” komentarku.

“Kopi Toraja, Ariana  Cantik…harumnya selalu luar biasa…” aih, seenaknya saja kau menyelipkan rayuan gombalmu itu padaku. Tapi bodohnya,aku suka itu. Spontan aku tertawa kecil.

“Aku mencarimu di rumah, di kantor, di tempat lain, dan aku menemukanmu di pondok….Kau melarikan diri dari apa lagi kali ini? Tak seorang pun mau menjawab pertanyaanku di rumahmu tadi.”  pertanyaannya seperti biasa, dingin dan tajam.

Di rumah? kau datang ke rumah? Tapi masih tak tahu apa yang terjadi? Atau pura-pura tidak tahu? Janur kuning, tenda biru, kursi-kursi, orang  lalu lalang…

“Siapa yang akan menikah? Di rumahmu sibuk sekali…” tanyamu lagi, kali ini sambil menyalakan rokokmu. Ritual yang sangat kusuka darimu meski aku tak merokok, dan tak suka efek rokok. Rokokmu dan kopimu.

Yang menjawab pertanyaanmu adalah Michael Franks. Sengaja aku putar lagu yang sama berulang-ulang hari itu.

And the Lady wants to know

She wants to know the reasons
Got to know the reasons why
This man has got to go
This man is always leavin’
How he hates to say goodbye
But what she doesn’t know
There really is no reason

There really is no reason why…

“Aku yang akan menikah. Lusa, Bang.” Jawabku akhirnya. Kau harus tahu, tentunya. Tujuh tahun bersamamu hanya untuk menantimu pulang dalam artian sesungguhnya untuk menikah denganku adalah perjuangan tersendiri. Dan kau masih harus pergi lagi dan lagi.

Sejenak tanganmu yang memegang gelas kopi terhenti di udara. Bibirmu menempel di bibir gelas, kaku.

“Sungguh?” tanyamu pelan. Aku mengangguk. Mencoba menikmati teh yang kau buatkan tadi tapi mataku tak bisa diajak kompromi. Tiba-tiba saja meleleh sudah air mata ini tanpa bisa tertahan. Tanpa suara.

“Ariana…”suaramu memanggilku lirih. Tak lama, kau sudah ada di sampingku, memeluk bahuku hangat. Aku bisa merasakan nafasmu yang tiba-tiba berat dan aroma hutan itu kembali mengungkupi hidungku. Aroma yang sangat kurindukan….

“Seharusnya Kau pulang ketika aku memintamu datang sebulan lalu, Bang…”bisikku parau. “Usiaku sudah lewat tiga puluh, dan semua memintaku cepat menikah mumpung kedua orangtua masih ada. Tapi kau tak pernah ada di saat aku membutuhkanmu….jika pun nanti kau menikah denganku, kau tak akan pernah benar-benar berada di sampingku, Abang….”

Kau terdiam. Pelukmu makin erat. Senduku kian menggelap.

“Tak akan ada lagi segelas kopi dan secangkir teh seperti sekarang ini, Ari….”desismu dengan mata menerawang. Dan dalam sekejap, wajahmu berubah muram. “Tak mungkinkah Kau menungguku setahun lagi, Ari? Setahun itu proyekku di Sorong berakhir. Dan aku akan kembali ke Bandung…”

Satu tahun? Tak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi dalam waktu satu tahun. Tidak tentang hidupku, juga tentang hidupmu. Kau melepas pelukanmu perlahan. Menatapku masih dengan tatapan tajam yang  mulai melunak, dan meminum kopimu seteguk. Masih ada sisa di gelasmu.

“Kalau begitu untuk apa aku disini? Rupanya Kau sedang dipingit. Aku tak boleh ada disini.” Setengah tergesa kau menaruh gelas kopimu, mengambil ransel dan bersiap memakai sepatu bootmu. Terasa sakit di dalam hati ini. Hari ini Kau akan pergi benar-benar jauh…

“Abang…maafkan aku…” desisku lirih. Masih tergugu, tercenung sejenak melihatmu bersiap pergi. Hanya punggung lebarmu yang kulihat dengan pandangan yang kabur karena air mata menggenang.

“Aku yang minta maaf. Aku membiarkanmu sendirian menghadapi semua. Lalu membiarkanmu lepas dari pelukanku begitu saja…Maafkan aku, Ariana…” Kau membalikkan tubuh, menatapku lagi dengan mata coklatmu itu.

Mata tajam yang menggambarkan kejujuran hati. Wajah tampannya yang sedikit tertutup bulu-bulu yang tak sempat dicukur membuatnya terlihat lebih jantan. Tetapi aku tak akan pernah melihatnya lagi, mungkin. Cukup mengingatnya, cukup merindukanmu saja. Aku akan sangat merindukan percakapan-percakapan kita di masa lalu di tengah hujan rintik dan cangkir-cangkir kopi dan teh kita.

“Abang…”suaraku tertahan di dada.

Aku melihatnya tersenyum pedih. Kembali mencangklong ransel beratnya, dengan tangan siap membuka pintu pondok. Hujan tinggal setitik dua titik. Pandanganku semakin kabur.

“Ikhlaskan, Ari…ikhlaskan…” bisiknya pelan.

Dan semakin lama kemeja flanel kotak-kotakmu hanya tersisa bayangan saja.

Kuhabiskan airmataku saat ini. Membiarkan sisa-sisa gelas kopimu dan cangkir tehku tetap berdampingan di meja bar, hanya sebagai seonggok barang. Dan bukan lagi hati kita.

Di luar sana gerimis masih bernyanyi. Sang Petualang tak jadi pulang.

-W-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s