Maha Rencana

Ini tahun ke 3 saya menjadi guru. Baru tahun ketiga. Bukan apa-apa jika dibandingkan dengan tahun-tahun yang sudah dilewati Pak Wawan, Bu Empon, dan rekan-rekan saya yang lain yang jauh lebih senior di sekolah. Namun belakangan hari ini ada beberapa hal kadang membuat saya enggan melanjutkan langkah ini. Yaitu amanah yang harus saya jaga dengan menjadi guru. Dan Jika perasaan itu datang, berkali-kali saya mengingat wajah-wajah polos yang selalu dengan senang hati menyambut saya, berlomba mencium punggung tangan saya padahal langkah saya masih belum melewati gerbang sekolah.

Suatu malam usai siaran sore, duduk di depan PC dengan mata lelah karena belum sempat beristirahat seharian, sementara isi kepala rasanya tak sabar ingin segera dimuntahkan menjadi tulisan di blog ini— seorang sahabat yang biasanya sibuk sepanjang hari di ruangannya— menyeduh kopi dan menyapa saya yang tak biasanya masih berada di kantor. Sapaan basa basi yang kemudian mengubah percakapan panjang itu menjadi sebuah diskusi menarik bagi saya.

Tentang album yang akan sahabat saya dan teman-temannya rilis beberapa bulan ke depan, tentang lagu-lagu mereka yang tidak begitu familier bagi saya, tentang awal terbentuknya band mereka (dan membuat saya merasa jadi wartawan musik dadakan gara-gara obrolan ini), tentang personel band ini dengan segala keunikannya, hingga tentang efek lagu mereka bagi fans.

Yang terakhir itu cukup sensitif rupanya buat saya. Sahabat berkisah tentang seorang fans yang terinsipirasi dari salah satu lagu mereka yang menyitir birokrasi dan KKN di negara kita ini. Merasa ingin lari dari kenyataan bahwa ia hidup di lingkaran itu namun tak bisa lepas dari rantainya.

Persis seperti yang belakangan hari menghampiri saya. Saya seolah harus memakai topeng yang berbeda sebagai alter ego saya. Ingin lepas dan berlari dari lingkaran itu tapi idealisme mengikat hati saya. Seperti si fans yang juga ingin melepaskan rantai dari kakinya. Hanya saja, rantai yang mengikat kaki saya adalah rantai yang Insya Allah kelak akan menjadi jalan bagi saya ke SurgaNya (Amiinn yaa Rabb). Setidaknya, saya harus bisa menahan diri dari godaan memuntahkan kegalauan (ceileee….~~)

Manusia aktor yang bisa berpolitik
Karena binatang tak mampu mengurus republik
Fakta bicara, binatang tak kenal intrik
Fakta bicara, manusia biang kerok konflik
Ceramah retorika budaya mereka

Kami punya cara bernegara
Bekerja berkarya biar kaya raya

Cupumanik – Luka Bernegara

Setidaknya sebagian lirik lagu itu memang ‘pas’ dengan kehidupan sebagian besar dari kita. Tak bisa menikmati hidup seutuhnya karena terikat berbagai aturan dan norma. Yah, namanya juga manusia, ya mesti gitu. Hanya saja, kesempatan untuk menjadi orang jujur sejujur-jujurnya memang semakin kecil, tergantung keberanian kita.

Seorang rekan sejawat pernah mengatakan,”…semuanya terkait dengan sistem, Neng. Kalau mau protes, yaaa sama dengan mendedel jahitan di celana robek, pasti terbuka semua, dan banyak orang yang nantinya akan merasa dirugikan….”

Ya, salahkan sistem saja, deh. Sistem yang beranak-pinak dan menjadi duri dalam daging di negeri ini. Membuat mental penerus bangsa semakin lembek seperti banyak contoh yang kita lihat. Ih, ngeri. Ngeri membayangkan anak cucu saya kelak kalau harus hidup dalam ketidakjujuran dan makan minum dari hasil ketidakjujuran~~

Hm….sungguh sebuah diskusi yang tak terduga. Dari situ saya mulai ingin tahu lebih banyak tentang band sahabat saya ini (yang ternyata fansnya banyak banget!), dan mulai mengerti kemana arah yang mereka tuju. Bukan komersialisme, tapi EFEK DOMINO yang dihasilkan oleh band ini nantinya. Band beraliran Grunge bernama CUPUMANIK.

Saya senang aja begitu tau kalo musik yang band kami hasilkan ternyata bisa memberikan pengaruh terhadap orang yang mendengarkan musik dan lirik kami, bukan sekedar musik yangg enak didengar atau bisa ikutan nyanyi-nyanyi, tapi justru memberi inspirasi…” begitu kata sahabat saya ini, sembari sesekali menyeruput kopinya, dan menyalakan rokoknya untuk batang yang kedua.

Ya, seharusnya memang begitu. Hidup kita kelak ditentukan dari sejauh mana kita memberi manfaat bagi orang lain. Apalagi kalau bisa menjadi inspirasi. Itu pula yang saya inginkan.

Sejenak terbayang wajah-wajah lugu itu ketika saya pertama kali datang ke sekolah di kaki gunung ini saat belum direnovasi. Setiap saat bisa rubuh dan menimpa kami jika sedang berada di dalam kelas. Apalagi jika hujan deras turun pagi-pagi, kami semua mengungsi ke kelas yang kondisinya lebih baik. Atau celoteh seru dan takjub mereka ketika saya membuka laptop dan memakai in focus untuk pertama kalinya d sekolah ini. Juga pada saat acara perpisahan kelas 6 dimana mereka memeluk saya dan menyatakan rasa haru dan bangga mereka….

the kiddos

Yeah, i think….I will survive ….

………………

bisakah kau katakan yang terjadi kebetulan belaka
semesta memberi makna
dalam Maha Rencana

semua kan terbuka jika kita lebih mau merasa
rubahlah jalan kerja alamiah pikiran kita
semua kan terbuka jika kita lebih mau merasa
arti yang kaya

Cupumanik -Maha Rencana

Terimakasih untuk obrolan yang inspiratif, Mr. E :)

– W –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s