Semalam di Ranca Upas

Malam baru saja mulai menggelap ketika saya tiba malam itu. Justru malah terasa makin mengundang rasa kangen pada satu tempat yang lama tidak sempat dikunjungi : Ranca Upas. Perjalanan yang diawali dengan modal nekat karena ingin kembali menghirup oksigen habis-habisan dan melarikan diri sejenak dari penatnya kota membuat kami sepakat untuk segera merapat ke lokasi bumi perkemahan Ranca Upas yang memiliki area seluas 215 ha ini.

Bumi Perkemahan Ranca Upas memiliki kekayaan alam perbukitan serta hutan alam yang sangat luas. Di atas ketinggian sekitar 1.700 dpl, hawa yang sangat sejuk di kisaran 18-2 3C menambah suasana alam di kawasan ini semakin memikat. Hutan alam di kawasan ini ditumbuhi beberapa jenis pepohonan seperti Puspa, Jamuju, Huru, Kitambang, Kihujan, Hamirung, Kurai dan Pasang. Sementara fauna yang dapat ditemukan antara lain burung tekukur, gagak, elang serta surili, monyet dan macan.

Sempat ada rasa khawatir ini dan itu melihat minimnya penerangan menuju Ranca Upas selepas pemukiman terakhir yang kami jumpai. Tapi karena dada ini sudah sesak karena penuh udara kota, perasaan itu dibuang sejauh mungkin.

Hujan masih turun, dan dingin makin menggigit. Satu jaket saja tidak cukup rasanya untuk bisa merasakan hangat. Tapi justru suasana dingin inilah yang khas dari ketinggian kawasan Ciwidey, Bandung Selatan.

Sekitar jam 10 malam kami baru tiba disana. Hujan belum berhenti, tapi hanya turun satu-satu. Rasanya,ehm, romantis….penuh roman bari jeung tiis (halagh). Namun suasana dingin tersebut justru terasa hangat karena di beberapa titik malah tampak ramai dengan suara-suara sekelompok orang. Ketika saya tiba ada sekitar 5-6 kelompok besar, yang sepertinya dari beberapa kampus yang mengadakan kegiatan kemahasiswaan. Mengingatkan akan masa lalu….

Leuweung Tengah nampak gelap dari warung tempat saya beristirahat. Dan menyiratkan kemisteriusan yang dalam. Tapi bagi sebagian dari kami — yang menjadikan Ranca Upas sebagai rumah kedua (di masa lalu) — kemisteriusan itu diartikan menjadi sesuatu yang indah. Saya sendiri terkenang akan dinginnya udara di jelang subuh, diiringi nyanyian lagu-lagu Iwan Fals atau Slank, sampai bangun dengan punggung basah karena air embun menembus bagian bawah tenda yang tidak dilapisi matras. Juga masa-masa Ospek baheula saat sengaja diceburkan ke Rawa oleh para senior hahaha…

Dan menghangatkan badan di depan api unggun adalah satu kewajiban. Ditambah segelas kopi atau bandrek panas, plus obrolan ngalur ngidul…

Pagi yang bening di Ranca Upas adalah sesuatu yang juga sayang untuk dilewatkan. Meski mata masih sangat mengantuk karena kurang tidur, matahari pagi hanya tiba untuk sesaat saja. Jam setengah 6 pagi masih cukup lah untuk menikmati pagi. Lewat dari itu, Ranca Upas sudah terang benderang, dan akan tampaklah wajah yang kusut belum cuci muka hehe…

Usai sarapan Nasi Goreng buatan Ibu warung Aster dan Teh Tawar Panas, waktunya untuk menyapa Rusa-Rusa. Bersuitlah sedikit, siapkan wortel segar atau ubi segar, biarkan mereka juga merasakan sarapan pagi sama seperti kita. Kandang mereka adalah padang luas dengan gundukan rumput hijau muda segar di sana-sini, tanah becek berawa, dengan panggung berukuran cukup besar untuk kita bisa melihat dan berkenalan dengan mereka.

Trust me, you’ll never get bored. A night is never enough. Jika siang datang, dan bukan musimnya tamu berkunjung, keheningan dan rasa dingin yang mencekam efeknya bisa sangat luar biasa. Buat otak, buat hati juga buat bodi. Hiruplah udara bersih ini dalam-dalam, biarkan oksigen membersihkan polusi di seluruh dirimu sepuasnya…

Kadang kalau siang mulai datang, terasa agak menyengat di musim kemarau, lengkap dengan desiran angin dingin sepanjang hari, yang saya kangenin adalah semangkuk Cuanki panas. Tapi biasanya apa yang kita inginkan malah suka sinkron, lho. Begitu pengen Cuanki, eh datang  juga tuh penjualnya, lengkap dengan tumpukan mie instan di atas pikulannya.

Dulu, kalau yang dipakai gaya survival ala tarzan, asal punya bekal beras, telur, ikan asin, atau apapun yang bisa dimasak, jadilah!

Salah satunya adalah makanan ini, tanaman rambat yang banyak tumbuh di sepanjang jalan setapak keluar dari Leuweung Tengah (dulu ya, entah kalau sekarang). Kadang kalau lagi serius mencari, bisa sampai sekantung plastik besar. Tapi kalau cuma iseng sepetik dua petik, yah, lumayan lah dapat dua tangkup tangan. Bisa buat lalapan sederhana. Segar, enak, rasanya seperti timun. Memang tanaman liar, sih, tapi penting buat survival, hihi.

Waktu terus berjalan dan hari hampir berakhir. Lokasi pemandian yang ternama di Ranca Upas adalah Gunung Tunduh, pemandian dengan air panas alami dari Gunung Patuha. Tapi saat ini setelah dilakukan renovasi besar-besaran, Bumi Perkemahan Ranca Upas sekarang memiliki lokasi bermain air bernama Kampung Cai. Beda banget sama dulu. Yang sekarang lebih bernuansa wisata.

Pastinya, jika waktunya tiba untuk melarikan sejenak dari polusi otak, inilah tempat pelarian saya :) Apalagi jika hari sepi tanpa pengunjung. Nikmati saja^^

-W-
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s