Ipar

Teh, ieu Irma. Nomer baru. Di-sep ya, teh. Eh, iya, kalo lewat tukang kaos kaki, titip ya. Yang 10 rb 3 aja. Buat Aneu.. Nuhun.

Kututup ponsel dengan nafas ‘sedikit’ mendengus kesal, karena tak mau Agah mendengar dari balik punggungnya. Perjalanan dengan motor membuat jarak 35 km membuat badan pegal dan stress, dan aku tidak mau isi sms Irma, malah membuat konsentrasi Agah buyar, dan membuat tambah stress. Meski sebenarnya tak apa, sih, berhenti sejenak untuk mencari kaos kaki, dan mengeluarkan uang 10 ribu rupiah, yang tak akan diganti pula nantinya.

“Naon, Lin? Siapa yang sms, kok jadi hening begitu?” duh, dasar sensi! Tahu saja…

“Adikmu tuh…biasa…” sengaja kubuat nadaku terdengar biasa, meski aku tahu, Agah pasti merasa itu tak biasa.

“Nitip apa lagi, sih? Ini kan udah deket rumah….masa mau balik lagi ke daerah pertokoan?” Nah, yang ini sudah pasti nada kesal! Yess! Hihi….

“Nggak usah dibales, lah. Biarin aja. “

Aku tersenyum senang. Iyalaaah, lagipula kami berdua capek, baru pulang kerja. Dengan jarak rumah dan kantor yang demikian jauh, berhenti sejenak untuk membeli barang yang sebenarnya bisa dibeli lain kali, hanya bikin tambah capek saja!

***
Irma, adik bungsu Agah, suamiku. Mereka 5 bersaudara, dan Agah kakak terdekat bagi Irma. Kakak yang dijadikan ‘tumbal’ kalau boleh kubilang. Padahal 2 kakak tertua rumahnya berdampingan, dan kakak ‘penengah’—si nomor 3—tinggal di kota lain. Aku tahu pasti apa alasan Irma selalu meminta tolong Agah, yaitu kenyataan bahwa Agah sangat amat sangat tidak PELIT. Dan tidak perhitungan.

Entah kalau Agah belum menikah. Aku tak peduli. Tapi Agah sudah menikah denganku, dan bahkan kami akan segera punya anak, karena aku sedang hamil 4 bulan. Tapi sepertinya apapun kondisinya, Irma akan tetap seperti itu….

“Dia kan jarang bertemu macam-macam orang seperti kamu, Lin. Jadi cara dia menghadapi orang lain pun beda sama kamu yang bisa mengerti. Kamu harus mengerti dia juga, dong…” begitu komentar Agah ketika aku ‘mengadukan’ padanya bahwa Irma kembali bikin ‘masalah’, ketus menghadapi aku setelah ribut kecil dengan suaminya. Ribut kecil yang sering, jadi aku juga sering diketusi seperti itu. Hanya saja, baru kali itu aku ‘mengadu’ pada Agah.

“Seharusnya dia juga belajar mengerti orang , dong, jangan maunya hanya dimengerti terus….take and give atuh…” kataku ngotot. Agah tersenyum kecil sambil meletakkan kacamatanya.

“Irma mana ngerti take and give, say…sekolah aja dia cuma sampai SMP kelas 1…”

Ya, sudah. Case closed. At the time, tapi. Soalnya besoknya sudah ada tambahan ‘kasus’ baru lagi. Irma datang ke rumah dan ‘meminjam’ beberapa sarung bantal duduk tanpa ijinku ketika aku dan Agah bekerja. Dan, biasa, baru minta ijin setelah sarung bantal itu dipakai, dan dia ambil dari lemari tentu saja!

Agah berusaha menenangkanku habis-habisan. Bahkan membuatkanku Oseng-oseng Enak, masakan sayuran yang hanya mau dimasaknya kalau sedang mood. Dalam rangka merayuku, tentu saja, supaya tidak sampai musuhan dengan Irma.

Yah, akhirnya memang aku luluh. Meski kemudian jadi lebih ‘waspada’. Tidak lagi menitipkan kunci rumah padanya, tidak lagi terlalu sering berkunjung ke rumahnya—yang ‘kebetulan’ berada tepat di depan rumah kami, dan tidak lagi meminjam apapun darinya. Supaya dia tidak selalu m,eminta ‘balasan’ dari setiap jasanya.

Kurasa memang aku sudah menemukan ‘pola’ itu. Pola yang Irma pakai. Dan itu juga ternyata berkaitan denganku. Jadi begini, kalau paginya aku meminjam sapu lidi untuk menyapu halaman, maka sorenya dia pasti minta tolong dibelikan ini itu. Mulai dari roti bakar, sampai kaos kaki yang tadi itu! Makanya, mulai sekarang, aku akan berusaha tidak tergantung padanya, dalam hal apapun.

Yaa, secara, aku dan Agah belum setahun menikah, sementara dia sudah menikah 2 kali dengan 2 anak perempuan di usia yang hanya 2 tahun lebih tua dariku, dan memang isi rumah kami belum lengkap, sehingga selalu adaaaa saja barang yang harus dipinjam dari Irma.

“Wak…assalammualaikumm….”suara Aneu sepertinya. Diikuti suara pintu dibuka. Hm, Like mother like daughter. Masuk sebelum dipersilakan.

“Wa’alaikumsalaam…” jawabku, masih sambil rebahan di kursi malas dengan majalah di atas perutku yang membuncit.

Aneu muncul dari ruang depan menuju ke kursiku sambil membawa sebuah piring kecil. Hmmm, makanan, nih!

“Apa, Neu?”
“Ini, wak,” gadis berumur 13 tahun itu memperlihatkan isi piringnya padaku,”rujak mangga jambu batu dari mamah. “

Aku tersenyum. Nah, begitu, dong!

“Bilangin mamah, makasih gitu ya….nuhun!” Kataku ceria, seraya menyamit mangga berbumbu dari piring yang dibawa Aneu.

Well, mungkin Irma sudah mulai ‘membaik’ Entahlah. Yang pasti aku senang. Kalau aku senang, bayiku juga ikut senang pastinya, Kata orangtua jaman dulu, kalau kita tidak menyukai seseorang, jangan keterlaluan sampai terasa sebal sekali, apalagi kalau sedang hamil seperti aku. Takutnya anak kita malah jadi mirip dengan orang yang kita tidak suka! Kan gawat kalau begitu!

Isi piring sudah habis, sampai bumbu-bumbunya pun bersih tuntas. Alhamdulillah. Dan tidak ada saingan untuk menghabiskannya, karena Agah tidak libur seperti aku di hari Sabtu ini.

Tiba-tiba pintu depan terbuka lagi. Tanpa assalamuallaikum, tapi. Wajah Aneu muncul lagi.

“Wak, kata mamah, nanti, kalo uwak kerja, pulangnya titip kamus bahasa Inggris buat Aneu, ya. Yang murah aja…m,akasih, ya, wak….” Dalam sekejap anak itu sudah menghilang di balik pintu. Mungkin dia malu….

Aku tertawa kecil. Sendiri. Untung Agah tak ada. Kalaupun ada, dia pasti membela adiknya itu. Kalau tahu begini, mungkin dulu aku tak akan menuruti permintaan Agah untuk pindah rumah ke sini, dekat dengan saudara-saudaranya, yang katanya bisa memudahkan kami kalau ada masalah atau ‘kepepet’ sesuatu.

Well, ok, deh, untuk alasan yang itu. Tapi kalau sampai beberapa waktu ke depan Irma masih begitu, aku tak tahu sampai kapan toleransiku bertahan. Hanya saja, aku harus sabar….aku tak mau kalau nanti ketika lahir, bayiku mirip Irma!!!

*******

This entry was posted in Fiksi Sendiri and tagged . Bookmark the permalink.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s