Alamanda

Apa yang membuat seorang perempuan lebih kuat dibanding laki-laki?

“Kecantikan dan kepintaran, darling. Kau tahu? Meskipun banyak penelitian menyebutkan bahwa laki-laki lebih pintar menggunakan otaknya dan mampu berpikir secara logis daripada kita kaum perempuan, mereka tetap saja bertekuk lutut jika sudah berhadapan dengan perempuan…” Mandy menghembuskan asap rokoknya dengan raut wajah puas. Alis matanya naik sedikit, dengan mata melirik nakal padaku.

Hmm…betulkah? Lalu apakah Hugo akan berlaku sama terhadapku? Menyerah pada kecantikanku?
“Kok sepertinya kamu malah tidak yakin kalau kamu cantik?” Mandy meledekku sambil kembali menghembuskan asap rokoknya. Kali ini rokoknya benar-benar sudah habis. Benar-benar membuat sesak kamar kost-ku. Aku memang tak suka melihatnya merokok.

“Lha, aku kan perempuan mbak, ya cantik dong…kalau aku lelaki kan pasti guanteng…”jawabku sekenanya, dengan logat surabayaku yang medok.

Mandy terkikik geli. Entah mentertawakan ucapanku atau logatku yang tak bisa ‘sembuh’ meski sudah 7 tahun meninggalkan kampung halaman.

“Ah kau…bisa aja kalo nge-les…sekarang kalau kamu serius sama si Hugo itu, ya jangan setengah-setengah. Ayo, buktikan kalau apa yang aku bilang ini benar!” Mandy berdiri dari duduknya di atas karpet, lalu berjalan menuju jendela kamar, dan memandang ke bawah jendela, tempat berseliweran anak-anak, sepeda motor, becak, sampai roda tukang sayur. Ini hari minggu, jam 8 pagi. Gang yang sibuk.

Aku bergegas mandi, jam 9 sudah harus bertugas seperti biasa. Tidak ada waktu libur bagi salon tempatku bekerja, kecuali kalau aku minta libur. Lagipula aku lajang, tak ada waktu untuk hal lain, selain mencari uang yang banyak buat ibuku di kampung.

Sebetulnya ada harapan sih, untuk bisa bertemu dengan Hugo, lelaki yang kutemui sebulan lalu di salon. Lelaki yang waktu itu kebetulan tengah mengantar ibunya potong rambut di salon tempatku bekerja. Kami sempat mengobrol sedikit, dia tanya ini itu, dan membuatku agak gede rasa. Apalagi Mandy juga sempat menggoda….Ah, tapi mana mungkin lelaki seperti Hugo mau padaku, si tukang potong rambut biasa di salon?

“Hugo itu ganteng juga ya…pasti dia cem-ceman tante-tante…nggak ada yang nggak mungkin di kota besar ini, Ti…”Mandy melirikku yang sedang berdandan untuk kerja.

Aku manyun sedikit. Mana mungkin lelaki seperti dia jadi cem-ceman tante girang? Jangan sampai ah…amit-amit…

“Lho, kok malah manyun? Mungkin saja toh, kalau ibu yang dia antar itu justru ‘tante’nya…”

“IIhhh….mbak Mandy kok gitu sih?” Aku merajuk kesal. Dasar, memang Mandy paling pintar kalau urusannya membuyarkan khayalan!

“Heee…aku ini tugasnya membuat kamu menghadapi kenyataan, bukannya mimpi terus, Ti…piye thooo’….” Dan akhirnya kami malah terkekeh bersama, apalagi melihat gayanya yang mulai berakting seperti nenek-nenek menceramahi cucunya, persis seperti eyang uti…

This entry was posted in Fiksi Sendiri and tagged . Bookmark the permalink.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s