Penyiar ‘Gaul’, Gak Cuma Bisa Bahasa Asing!

Agak egois dikit, nih…gapapa ya….:D Egois dalam artian pengen ngomongin diri sendiri.

Jadi gini, saat on air, saya sukaaaaa sekali berbahasa daerah. Bahasa daerah yang saya bisa sehari-hari ya —kebetulan—bahasa Sunda. Pengennya sih, cas cis cus, ngomong fasih dengan bahasa Inggris pleus logat british pula —tanpa cela. Atau berbahasa Perancis, Korea, Jepang, Jerman, apapun yang ‘katanya’ GAYA. Ngayal, hehehe….

Makanya, setiap ada kesempatan, dengan senang hati saya menyelipkan ujaran-ujaran atau apapun dengan menggunakan bahasa daerah yang saya tahu. Kadang dengan ‘sok tau’ saya juga mencoba mengucapkan ujaran berbahasa lain yang pernah mampir di kuping saya.

Lalu muncul satu-dua komentar yang bilang kalau siaran saya jadi kampungan dan norak. Terlalu banyak bahasa daerah membuat siaran saya jadi gak ‘elegan’. Katanya sih gituuuu…….

Imon : “Lah, emang kata siapa sih?”
Saya : “Ada laahh….masa harus dibilang-bilang sih…”
Imon :”Mungkin takutnya ada yang nggak ngerti bahasa daerah kita, Neng….”
Saya : “Mmmm….iya kali ya, Mon…..tapi kan, ada peribahasa –> ‘dimana kaki berpijak, disitu langit dijunjung’ tea….masa sih, bahasa sehari-hari yang sering didenger aja nggak ngerti….”

Kalimat ‘norak dan kampungan’ seolah menegaskan bahwa bahasa Sunda a.k.a bahasa daerah (sunda) adalah bahasa yang tidak intelek, dan tidak cocok disuarakan oleh orang-orang yang (katanya) pintar dan (mengaku) intelek. Haiyahhh, banyak dalam kurungnya nih….maksudnya apa nihhh….:D

Beberapa waktu lalu saya menemukan komentar dari salah seorang pendengar radio ketika tengah blogwalking, doi bilang,”katanya radio gaul, penyiarnya gaul, kok ga mau ngomong pake bahasa daerahnya sendiri sih?”

JEDANGGG!!! Nendang banget, sih! Hehehe…..Ini kenyataan, lho. Banyak penyiar radio yang ‘ngakunya’ gaul, ketika berbicara on air, menjadi ja’im (jaga imej atau ‘jaga imah?) dan enggan memperlihatkan kepribadian sukunya sendiri. Padahal menurut saya hal itu natural sekali.

Okelaaa, kembali disesuaikan dengan segmen radio dan pendengarnya. Tapi kan kita tidak bisa memilih pendengar, ya toh??? Bukankah berbahasa daerah tidak berarti kita orang yang bodoh atau apapun yang berkonotasi ke arah itu? Kalo nggak salah sih, bung Karno sekalipun tak tabu berbahasa Jawa, sama fasihnya ketika beliau berbahasa Inggris…

Sebetulnya ada perasaan nyelekit ketika seseorang berkomentar,”…kalo kebanyakan ngomong pake bahasa daerah tar malah kayak radio tetangga….tuuh, disangkanya kita udah berubah segmen…”

Weleh-welehhh……situ okeee???!!!!

Tapi kemudian saya tersadar, ini yang namanya Pride a.ka kebanggaan diri. Pride-nya sebuah radio memang terpijar melalui on air personality si penyiar. Dan itu artinya, saya harus mengerem lebih banyak lagi kebiasaan berbahasa daerah di udara….:(

Naaah, lalu suatu ketika, ada lagi yang berkomentar lain,”…nggak apa-apa ah, pake bahasa daerah juga, kan nggak kasar…bahasa yang dipakai bahasa yang baik…asal penempatannya baik, yaaaa nggak masalah atuhhh....”

Bravooo!!!! Satu dukungan rasanya bagai dilempar duit seratus ribuan 10 gepok! Serasa dapat lampu hijau setelah 15 menit nunggu lampu merah terus!

Imon :”Lebay ah! Biasa-biasa aja kaleee!!! Dilempar duit 5 ribuan juga udah cukup Imon mahh…asal sekoper…hehehe…”

Well, kesimpulannya, buat saya sendiri, selama saya nyaman berbahasa daerah di udara, dan tentunya dengan bahasa yang baik dan tidak membawa efek buruk (khususnya bagi anak-anak, karena saya yakin ada pendengar di bawah usia dewasa yang juga mendengarkan siaran radio), saya masih akan melakukannya sampaiiii……..

Imon : “…sampai si bos bilang ‘NO’?”

Saya   : “hehehee…..:D”

Imon : “Teuh nya, malahan hehe…kumaha eta teh???”

Saya   : “Kata kamu gimana, Mon?”

Imon : “Kalau kata sayah mah, kita buktikan sajah dulu pada para pendengar, bahwa sebagai urang Sunda, masih bisa mengucapkan hurup ‘EP’ (F) !!! Adalah Pitnah jika kami tidak bisa bilang Pitnah!!!! ”

Saya   : ….???!!?!?!

-Timorensis-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s