Ingin Memeluk Apa

Malam ini saya teringat pada Apa, almarhum Kakek saya. Terbayang beliau sedang duduk di kursi kebesarannya, mengisap tembakau dengan cangklong tua dan sebekong penuh teh hitam pahit. Bekas-bekas teh membekas di pinggiran bekong (mug) dengan aroma yang khas. Dan mengingat suara Apayang halus dan penuh perhatian.

Neng….engke mun tos ageung palay janten naon?”

(Neng…kalau sudah besar nanti mau jadi apa?)

Saya menggeleng bingung. Memamerkan senyum berhias gigi gingsul dengan mata menyipit. Dengan rambut berponi  sedikit menutup alis. Apa tertawa pendek. Waktu itu saya masih kelas 2 SD. Tapi saya masih ingat.

Emak menyiapkan petromak untuk dinyalakan Apa. Sore mulai habis. Di luar gelap. Sebentar lagi terdengar kumandang adzan maghrib. Apa mengibaskan sarungnya yang kusut karena terlalu lama duduk.

Heug lah..jadi naon oge…nu penting mah jadi jalma bener jeung bageur we nya…emh..Incu Apa nu geulis…”

(Baiklah….Jadi apapun kamu nantinya…yang penting jadi orang benar dan baik ya…emh…cucu Apa yang cantik…)

Apa menaruh cangklongnya di wadah istimewa tempat cangklong itu biasa bertengger. Lalu mulai ‘berolahraga’ — menyalakan petromak.

Listrik belum menyapa Kampung  Cicalung, Cicalengka, Kab. Bandung di tahun itu, 1987. Setiap sore Apa harus menyalakan petromak besar, yang jika kami tidur harus dikecilkan apinya supaya nyalanya tidak terlalu terang. Juga menghemat menonton TV dengan aki yang hanya diisi ulang seminggu sekali di pasar. Ah, lagipula saya tak begitu suka menonton TV ketika itu.

Apa kembali ke kursi tadi. Mengusik radio transistor kesayangannya dan mencari suara Ua Kepoh. Mungkin Apa lupa, sore-sore begini si Rawing sudah usai. Harusnya tadi jam 3 sore.

Apa mah neangan adan, Neng…” kata Apa. (Apa mah lagi nyari suara adzan, Neng) menyimpan kacamata tebalnya di atas meja, lalu membiarkan frekuensi radio di posisi biasanya, radio yang mengudarakan dongeng si Rawing, kesukaan kami.

Emak memanggil saya untuk masuk ke dalam rumah panggung itu. Beralih dari lawang pintu—katanya memang pamali duduk di lawang, bisa susah jodoh—tapi saya suka duduk di sini. Apa bersiap ke masjid, dan Emak menutupi semua jendela. Hari mulai malam.

….

Mengingat Apa dalam hening. Nyurucud cisoca.

 

 

Al-Fatihah.

Apa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s