Penyiar (Radio) di TwitterLand

Tadinya bingung juga mau ngasih judul apa di tulisan ini. Ternyata dapetnya ya judul itu. Alah, ya pokoknya begitu deh ya. Semuanya berawal dari sms sahabat saya, si Om, yang memang sering share sama saya soal radio dan kepenyiaran (ah, sok tau ya saya;p) . Doi cerita, lagi denger satu radio di Bandung  (ada lah pokoknya) , waktu itu kalo nggak salah sekitar jam 11 malam, dan saya sedang dalam perjalanan menuju tempat wisata di Bandung Selatan bersama keluarga karena memang moment-nya masih Lebaran — jalan-jalan gitu deh modelnya. (Kenapa kok jelang tengah malam? pengen aja hehe…biar ga macet, cyinn...)

 

 

Naa, doi bilang, kok ya penyiarnya ga asik banget, gayanya sok keren, menggurui, suaranya dibagus-bagusin, dan ngerasa lebih tau segalanya…intinya sih, ga banget lah gitu. Spontan langsung saya ambil earphone ponsel dong, dengerin itu radio di perjalanan sementara penumpang mobil lainnya pada asik tidur atau ngobrol. Ternyata yang dikomentarin adalah seorang penyiar perempuan, suaranya memang audiovoice (enak di kuping gitu deh), dan bahan pembicaraannya seputar relationship. Ow, oke, serius sih emang yang dibicarain teh. Tapi memang kerasa ‘jauh’ sama pendengar.

 

Tentunya saya menempatkan diri saya sebagai pendengar ya. Karena awalnya dulu saya masuk ke dunia radio pun karena kecemplung duluan sebagai pendengar. Kesimpulannya adalah : oke, apa yang dibilang sama si Om memang saya setujui. Kebetulan kita satu selera, hihi. Padahal ada bisik-bisik lain yang saya dengar, justru si teteh yang lagi on air ini mendulang banyak pujian karena doi dinilai keren siarannya.

 

Hm. Keren ya….Sebentar, penyiar radio yang keren itu seperti apa sih? Kriteria supaya disebut ‘keren’ itu sendiri apa? Suara bagus, smart, jago punchline (paling capek ngomongin ini), menguasai materi, menghibur—-dan secara fisik menghibur mata juga dong ya, hehehe….(itu mah lain lagi ya urusannya, bonus gitu deh modelnya:D)…kurang lebih itu lah ya.


Yang jadi bahan komen sebetulnya adalah cara memanggil pendengar dengan sebutan Anda. Buat si Om, panggilan itu ‘ganggu’ banget deh pokoknya.  Mmm, buat saya juga sih sebenernya. semakin jauh lah jarak antara pendengar dan penyiar. Sampai kemudian terbitlah twit dengan hashtag (#) penyiar di Twitter.

 

Sesungguhnya kata “anda” yg digunakan #penyiar membuat jarak menjadi jauh dgn pendengar yg seharusnya dibuat seolah tanpa jarak 😀

….dan tambahan twit lainnya dengan me-mention teman-teman penyiar lainnya, termasuk yang sudah punya nama^^…

#penyiar bahkan tdk harus sll bertema & bertanya pd pendengar & berharap respon sms.Pendengar segmented biasanya membalas ckp di dlm hati 😀

Siaran itu dengan hati. Seorang #penyiar yg baik adalah seorang yg paham mengenai passionnya yg berpadu dgn profesionalitas.

#penyiar yg melakukan punch line tiap cut malah bikin boseen looh 😀

#penyiar handal yang dpt memerankan tokoh fiksi lain adl @wickyadrian dl di @ozradiobandung, tokohnya adl seekor anjing bernama Pipo 😀

Ingin tau bgmn #penyiar bs memiliki jejaring yg sangat luas? Yok tanya @vivienovidia 😀

Ingin tau bgm #penyiar Bdg berani melangkah k Jkt yg konon kejam? Yok tanya @rocknal @VeckyManengkey @grooveboxita @rian_ibram @maknyes😀

Bgmn Imon mjd tokoh fiksi yg sgt hdp dlm sebuah siaran seorang #penyiar? Mari tanya @nengwind. Atau tny Nina Sungkono-nya @VeckyManengkey 😀

 

(eh…ada si gue…….^^)

 

Tapi yang paling ‘njleb! buat saya yang ini nih… :

Jadilah #penyiar dgn smiling voice yg tulus, tdk menggurui dan jadilah sahabat yg baik buat pendengarnya 😀

 

 

Wuih…penyiar banget deh…my soul, my blood,  my everything is only for the radio kali ya istilahnya hehe…Kalo pengen ngecek tautan hashtag tadi tinggal dicari aja deh yaaa, monggooo^^ dan ternyata si hashtag tsb menuai komen juga dari penyiar-penyiar yang di mention. Seru…(eh, Om, ujung2nya malah pada pengen reunian kan hihihi….)

 

Dari hashtag itu juga saya jadi tau, rupanya penyiar yang ga pede (padahal mereka sudah ‘jadi’ seseorang) masih tetep ada, punchline (omongan yg akan jadi ‘sesuatu yang nendang’ di kuping pendengar) akan selalu menjadi horor tersendiri, lagu favorit penyiar tidak selalu sama dengan selera owner radio dan MD-nya (hoho), atau bahkan kehidupan pribadi si penyiar yang terangkat naik ke permukaan on air secara ga sengaja (karena bingung nyari materi siaran). Eh, atau jangan-jangan ini mah saya aja yang sok-sok’an menerjemahkan sendiri isi hashtag itu yaaa, hohoho…

 

Sebagai penyiar yang belum masuk kategori ‘keren’, saya pastinya sadar diri, perjalanan menuju kesana memang nggak instan dan nggak bisa semau kita juga. Apapun perlu proses. Termasuk menjadi penyiar yang oke.

 

Pengennya sih, bisa jadi seorang penyiar handal yang tetap nempel di kepala banyak orang (baca: pendengar radio) sampai tahun kapanpun, yang juga bisa jadi sahabat semua orang (nyomot komennya neng gits;)) Tapi yang bisa saya lakukan sekarang adalah MENIKMATI aja dulu apa yang saya jalanin…..

 

Tau-tau si Imon nyoel bahu saya…

Imon : meskipun ente kudu ngalamin banyak hal yg ga ngenakin di radio?

Saya : hooh. perubahan itu kan selalu ada, mon. Mau berubahnya enak, ataw jadi ga enak, mesti bisa ngadepinnya. Kamu sendiri kan gitu…waktu twitter pertama ada, sempet antipati ya toh?? ehhh, sekarang malah bawel mulu bawaannya, ngicawwww terusssss….jadi, mau dibawa kemana monnnnn???

Imon :…mau di bawa kemanaaaaaa…hubungan iniiiii……*nyanyi*

Saya : halah!

 

 

 

~~….Sementara di twitterland sendiri saat tulisan ini dibuat para penghuni sedang asik ngomentarin pertandingan pra piala dunia antara Indonesia vs Iran….punten ah, numpang lewat aja ini mah…;)

 

 

-Timorensis-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s