Private Parts

Title                       : Private Parts

Director               : Betty Thomas

Producer             : Ivan Reitman

Written by          :  Len Blum, Michael Kalesniko, Howard Stern

Starring                : Howard Stern, Robin QuiversMary McCormackFred NorrisPauGiamattiCarol Alt , Allison Janney                                                                     

Music By              : Rob ZombiePorno for PyrosMarilyn MansonThe Dust Brothers

Distributed by  : Paramount Pictures

Release Date      : February 27, 1997(premiere)
                                       March 7, 1997 (US)
                                       June 20, 1997 (UK)

Running Time  : 108 Minutes

Country                 : United States

Languange           : English

 

 

Howard Stern. Siapa dia?…… Siapa, sih?…….. Seleb?…….. Seleb mana? …..Orang mana? …….Main film apa? ….Digosipin sama siapa? ……..Hidup di tahun mana?

Shhhhhh…..keep silence. Tonton aja dulu film ini, apalagi kalau ngakunya orang radio, atau tertarik dengan dunia radio.

 

****

Oprah Winfrey‘s life is certainly a big life story. And Howard Stern’s life is another story. Begitu kesimpulan  yang saya dapat setelah menyaksikan film ini. Kehidupan Oprah adalah sebuah tragedi, dari kosong menjadi sesuatu yang berisi bahkan bisa menginspirasi. Kehidupan Howard Stern? Mmm….sempat merasa bahwa kekonyolan dan kegokilan Stern adalah sesuatu yang hanya sekedar mencari sensasi. Apalagi bisa dibilang hampir tidak ada keteladanan yang bisa ditiru dari Seorang Stern. Namun lambat laun ada satu hal yang nempel di kepala saya tentang dia : Kegigihan.

 

 

 

Cerita dimulai dengan kisah hidup Stern sejak masih kecil. Yang kenyang menghadapi sumpah serapah sang ayah dan ulah sang ibu yang nyentrik. Setiap sang ayah mengajak Stern bermobil ke tempat kerjanya, yang kebetulan adalah salah seorang petinggi di sebuah radio,  Stern seolah belajar bagaimana untuk hidup bersama radio, tumbuh dengan radio, bahkan bercita-cita menjadi seorang Penyiar Radio. Ayahnya baru ‘ngeh’ tentang hal itu ketika si Ayah bertanya pada Stern, apa rencananya setelah lulus high school. Kedua orang tuanya yang selama ini menganggap anaknya tidak begitu istimewa malah terperangah kaget saat tahu bahwa anaknya memilih untuk bersekolah di Boston University di jurusan komunikasi demi mewujudkan cita-citanya menjadi seorang pekerja radio. Seriusss….

Kisah selanjutnya menggambarkan Stern yang mengawali karier radionya di radio kampus, WTBU, sebagai Disc Jockey yang suaanggat serius. Mungkin karena di masa itu trend penyiar dan bentuk siaran radio yaaa seperti itu. Nggak jauh dari bicara tentang cuaca, laporan lalu lintas, dan hal-hal yang standar. Dengan gaya bicara yang juga nggak kalah serius. Cocok dengan ‘setelan’ pakaiana Stern yang jadul abis (secara itu tahun 70’an gitu?) flower generation gitu lah, rambut kriting, hidung yang terlalu besar warisan bapaknya, plus tinggi badan yang menjulang. Alhasil, selama masa kuliah, bukannya bisa kencan dan ketemu gadis cantik, jadinya malah lebih mirip ‘weirdo’ or something like that.

 

Adalah satu keajaiban kalau Stern kemudian bertemu dengan Alison (Mary McCormack) yang di kemudian hari menjadi istrinya. Meskipun untuk bisa dekat dengan Alison,  Stern harus beralasan hendak membuat film pendek dan meminta Alison untuk menjadi pemeran utama film yang justru ujung-ujungnya malah meraih penghargaan di kampus itu (yang ini entah bener entah enggak ya^^).

 

Perjalanan dari satu radio ke radio lainnya juga dialami Stern hingga jelang tahun 80-an. Ada satu momen menarik ketika Stern harus on air dengan segala tetek bengek yang mengharuskannya tampil dengan keformalan yang berlaku sesuai standar di masa itu. Karena terburu-buru untuk langsung on air, tanpa persiapan seperti biasanya, Stern membacakan Adlib ( iklan baca ) yang justru telah lewat masa siarnya. Sambil tertawa malu Stern meminta maaf secara on air pada pendengarnya. Justru momen ketika ia tampil dengan natural itulah yang menurut Alison lebih baik dibanding bicara secara formal dan dibuat-buat.

 

Langkah demi langkah Stern di dunia radio (AS) memangbisa dibilang agak radikal dan melawan arus. Bicara semau gue—entah itu mau ngomongin politik, seks, lalu lintas, atau apapun—dan semuanya dikemas dengan menarik , dengan bantuan partner setianya, Robin Quivers dan Fred Norris, yang ternyata bisa mengimbangi kegokilan Howard Stern. Pindah dari satu radio ke radio lain dengan formasi sama (Stern, Robin & Fred) , mengalami peingkatan finansial seperti yang diharapkan, bahkan berproses dari pacaran sampai punya anak dari Alison, semua dijalani Stern bersama radio.

 

Pastinya sih, saya nggak akan ngasih spoiler buat yang belum pernah nonton film yang juga dibintangi sendiri oleh Howard Stern ini, tapi pastikan yang mau nonton film ini buat DEWASA, deh, ya.  Di sepanjang film, nudisitas termasuk hal yang paling bertebaran di sini. Mulai dari Stern wawancara dengan bintang film kelas 3 yang punya niat ‘lain’ demi popularitas, atau Stern on air dengan perempuan telanjang. Belum lagi di setiap perpindahan fase Stern, selalu ada perempuan (atau waria) yang berpakaian seminim mungkin hanya untuk numpang lewat beberapa detik saja. Owwhh…cape deehh….

 

Lalu apa yang bisa diambil setelah menonton Private Parts? Mmm…dari sisi hiburan, oke dehh…cukup bikin ketawa dikit, meskipun sebenarnya sesi nudisitas bisa di-cut di sana-sini. Dari sisi Radio-Isme (baca : semangat keRADIOan) Stern patut dikasih jempol! Apalagi untuk kelihaiannya membentuk daya visual pendengar (Theater of  Minds) hanya dari cara bicara dan apa yang dibicarakan (gila aja, ada seorang perempuan org***me hanya gara-gara mendengar suara Stern di radio sambil menuntunnya mengkhayal!! )

 

Kreativitas Stern juga diperlihatkan disini, ketika efek suara yang dibutuhkan untuk membuat laporan cuaca yang dihasilkan terdengar lebih meyakinkan, Stern sengaja berbekal segala macam benda untuk dibunyikan. Kalo jaman sekarang, sih, memang mudah bikin efek suara. Tinggal cari komputer, play, beres. Sensasi didengar  banyak orang sampai dijadikan bahan gosipan orang-orang di seisi kota pun rasanya merupakan ‘sesuatu’ . Belum lagi yang lainnya.

 

Dengan body over jangkung, rambut kriwil, muka nggak begitu ganteng, and also not having a golden voice seperti kebanyakan penyiar jaman itu, Stern tetap maju terus pantang mundur membawa konsep siarannya sendiri. Dan itu membuat Stern pernah membuat rugi radio tempatnya bekerja karena harus membayar denda sekian ribu dolar AS gara-gara konten siaran yang ngaco!!

Yakin mau nonton film ini? Boleehh…tapi lebih seru kalo nontonnya rame-rame, biar kerasa nge-fek! Haha!

 

 

 

 

#Tentang Howard Stern

ehem…waduh, banyak banget nih data tentang orang ini…sampe capek nerjemahinnya, hehe…baca sendiri deh ya, monggoo, di klik aja link ini : http://en.wikipedia.org/wiki/Howard_Stern

Intinya, kerjaan doi dan duitnya memang bejibun, dan semua berawal dan kebanyakan berasal dari RADIO. Dalam sejarah peradioan, Stern memang mencatat sejarah tersendiri. Belakangan hari, Stern lebih berminat dengan hal-hal berbau meditasi yang masih dipraktekkannya sampai hari ini. Yang ini patut dicontoh nih, Stern berhenti merokok dan mewujudkan cita-citanya di dunia radio. Hal lainnya adalah bahwa Stern juga pernah mewawancarai tokoh Yoga ternama — Maharishi Mahesh Yogi , sampai dua kali. Nggak anti juga untuk main catur online, bahkan menjadi murid langsung Dan Heisman, seorang chess master AS (meskipun ngakunya sih, sekarang doi sudah berhenti main Catur).

 

 

 

 

-Timorensis-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s