Drimi

Drimi

Promo Album ‘Dream Of Me’ Hits Single ‘Wanita Biasa’

12 Mei 2011

The Tracks :

1. Tak Bisa/Tak Mau

2. Kau dan aku feat. Jay R

3. Wanita Biasa

4. Ritme Hati

5. Apakah ku Jatuh Cinta?

6. Serba Salah

7. Tak Mampu Mendua

8. Pihak Ketiga

9. Sendiriku

10. Curiousity

What a beautiful name, kata saya pada gadis ini, saat membuka percakapan kami. Drimi = Dream me= Dream of Me (judul album ). Nama yang pastilah memberikan makna dalam bagi orangtuanya, bahwa kelak anak gadis mereka ini bisa mencapai impian-impiannya. Dan apakah menjadi penyanyi merupakan impianmu juga, Drimi?

Gadis muda ini hanya tersenyum simpul. “Aku suka nyanyi dari kecil, sih, jadi yaaa, nikmatin aja….” Pastinya sih, bukan cuma menikmati yang dilakukan gadis muda kelahiran Jakarta pada 26 Februari 1988 ini, karena Drimi yang bernama lengkap Mary Drimi Tyastati Padmodimuljo ini pun berlatih alat musik gitar, piano klasik dan flute. Belum lagi bekal teknik menyanyi dari sekolah vokal Bina Vokalia.

“Lagu ini dibikin sama Cas (Alfonso Nainggolan), Wiz (Wisnu Prastowo) sama Bemby Noor,” katanya, menjawab pertanyaan saya tentang single ‘Wanita Biasa‘ yang saat ini tengah dipromosikan. Pengalamannya sebagai penyanyi membuktikan bahwa ia bukan sekedar ‘Wanita Biasa’ karena sudah pula membuktikan kemampuan bernyanyinya dengan tampil menyanyi di berbagai tempat seperti di Batam, Singapura, Amerika, dan bahkan dalam upacara kenegaraan di Indonesia. Baru-baru ini Drimi pun ikut membantu pengerjaan album kedua Afgan, The One, untuk lagu “Don’t Care“.

Suara lirihnya menjawab pertanyaan saya pendek-pendek,  seolah menghemat tenaga karena sepertinya sedang flu (hehe..asal nebak aja ,sih…bener ga ya, Drim?). Termasuk ketika saya tanya personal twitter-nya, “cari aja @dreamofmoi,” sahutnya, lalu mengoreksi pelafalan saya yang sengaja saya plesetkan —  dari bonjour menjadi boswaa (sok2an ngikut ngomong drimofmoa, hehe, tauknya ada yang pernah tinggal di Paris kann, hehe) — yaahh, gaya dikiitttt^^

Menit berikutnya terasa lebih ‘gaya’ karena dengan senang hati Drimi menyanyikan How Come You Dont Call Me-nya Alicia Keys dengan iringan akustik dari teman-teman se-geng-nya. Suaranya lihai menapaki tinggi rendah nada lagu R&B meski terdengar agak parau. Parau yang tidak terlalu kentara malah membuat lagu itu jadi lebih seksi, sih, sebenarnya, hehe…. parfait, ma belle🙂

Ah, kemana saja suara bagus ini ,kok, baru kedengeran sekarang , ya?

“Proses pembuatan CD album ini memang lama sih, 2 tahun baru beres, lama di proses pemilihan lagu dan aransemen,” papar Drimi. Dan ia hanya tersenyum penuh arti saat saya mengulik sedikit tentang cover CD albumnya yang didominasi warna Pink.

“Cantik banget nih, covernya….Ada bunga segala…”
“Ya, itu bunga Lily…”
“Ada arti filosofinyakah makanya bunga Lily dibawa-bawa untuk dijadikan latar cover ini?” Dan ya, Drimi memang hanya tersenyum manis saja. Tidak memberi jawaban pasti.

“Tapi konsepnya sih, sebenernya tentang Alice in Wonderland…”
Hm. Oke. Seorang gadis muda dengan kostum yang fashionable dan memakai sepatu yang ‘wow’ duduk di atas lukisan bunga lily ditemani seekor burung yang kelihatannya sedang bercicit-cuit di atas jarinya. Self potrait di dalam CD ini pun sangat menggambarkan gaya fashionnya yang ‘tidak biasa’. Bukan sekedar oleh-oleh sepulang dari Paris tentunya, ya (Drimi adalah lulusan S1 jurusan Fashion di Paris).

20 menit berlalu dan Drimi sudah membuka sebagian isi bukunya untuk kami semua. Bahwa ia suka mendengar Charlotte Church bahkan belajar menyanyi seriosa (mau juga di’todong’ nyanyi), meskipun bintangnya Pisces tapi ternyata nggak moody, juga bahwa hobinya selain menyanyi tapi juga menggambar dan membaca.

“Bukunya Elizabeth Kostova, the Historian,” sahutnya tentang buku terakhir yang sedang dibacanya. In english, must be. 

Lalu bagaimana dengan perjalanannya memasuki industri musik?

 

Music-bizz ini tidak seperti yangg kuduga, banyak orang 2 yg tadinya ngomong A jadinya B…” komentarnya. Memang tak selalu manis yang kita dapat, darling, tapi tentunya hal itu membuatmu lebih berani menghadapi banyak hal juga. Namun tidak berarti ia berani menghadapi keramaian rupanya….

 
Crowd…aku sempat ngalamin takut sama keramaian,”akunya. Tak percaya rasanya, seorang penampil seperti Drimi malah mengalami fobia seperti ini. Dijebak teman-temannya untuk datang ke mall, dan terpaksa menghadapi orang banyak membuat rasa takut itu perlahan menguap. Obat yang mujarab. “Baru terakhir-terakhir ini aku bisa ke tempat rame…”

Dengan bakat sekental itu, Drimi, semoga saja fobia itu tak pernah datang lagi:)

Photos : Derry S. 

 

 

-Timorensis- 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s