Musikku Juga Musikmu

Sejak Januari 2010 saya dipercaya untuk memandu acara khusus lagu-lagu dari musisi Indonesia di radio tempat saya siaran sekarang. Saat itu lagu melayu sedang booming. Acara saya pun terkena imbasnya, padahal sebelumnya acara ini termasuk yang paling bertahan dari segala ‘godaan’, temasuk godaan memasukkan lagu Melayu ke dalam play list.

Atas tuntutan keadaan, jadilah lagu Melayu masuk ke dalam list saya. mulai dari satu, lalu nambah jadi dua, dan seterusnya. Alhasil rating memang naik, data pendengar juga bertambah drastis.

Terus terang, tak masalah bagi saya apakah ada lagu Melayu dalam list lagu saya atau tidak. Saya selalu bisa menikmati. Mulai dari dangdut (tahun 2000 saya sempat merasakan ber-dangdut ria dengan siaran talk berbahasa Inggris di salah satu radio swasta di Bandung, meski tak bertahan lama), sampai world music, saya hayu aja.

Justru dari situ saya mulai belajar karakter orang.

Memang betul kalau penyuka jazz agak  ‘somseu’ dan terkesan high class–  (ini opini lho ya). Yang suka rock memang lebih ekstrovert biasanya, meski yang introvert lebih sedikit jumlahnya. Sementara penyuka musik klasik yang saya jumpai biasanya orang yang pintar dan susah disanggah kalau lagi ngobrol. Sementara Pop, mainannya bisa ke segala arah, alias ga pake jaim-jaim. Suka mah suka aja.

Blues? Yang ini pecinta kebebasan. Langsung mengingatkan saya pada alm. Micko Protonema — bagian dari pijakan langkah saya di tahun 2006 — dan kang Harry Pochank — salah satu ikon blues Bandung yang piawai memainkan harmonika. Pecinta blues juga memiliki wawasan dan pergaulan yang luas, dari anak jalanan sampai pejabat dan seniman dengan pemikirin yang njlimet.

Oke, yang saya sebut tadi lumayan umum lah ya. Yang sempat menjadi bahan perhatian saya belakangan hari adalah musik indie (Bandung). Band dengan nama-nama asing dan not-not unik mampir ke telinga saya yang terbiasa dengan aliran mainstream. Ok, saya memang ketinggalan. Padahal geliat musik indie di Bandung khususnya sudah mulai terasa sejak jaman  Pas Band dan Pure Saturday (Setahu saya, sih—boleh koreksi kalau saya salah).

Telinga saya makin kaya dengan suntikan musik macam ini. Mulai dari Sarasvati sampai Katjie & Piering. Yang lembut, ceria, unik, dan bahkan membuat liar imajinasi, saya dapat dari musik jenis ini.

Well, one sentence I’ve got : I Love my Absorbing time!

….

Namun lagi-lagi nalar subjektif saya membunyikan alarm sok pintar seperti biasa. Berprasangka lagi bahwa orang-orang di balik musik jenis ini bukanlah orang-orang yang biasa hidup susah. Padahal belum tentu juga ya. Semua bisa berbalut penampilan atas nama style dan imej. Dan itu bukan hanya dari jenis musik ini.

Semua kembali pada karakter masing-masing, dan selera musik masing-masing. Mau suka atau tidak ya terserah. Mencomot judul lagunya Jamal Mirdad yang dinyanyikan lagi Duo Maia …”Yang penting hepppiii…!”

Yes, yang penting memang cuma itu, perasaan yang kita dapatkan setelah menikmati musik. Mau itu Pop, Rock, Klasik, atau apapun, yang penting hepi!

Tapi jadi nggak begitu hepi lagi setelah saya ketemu dengan seseorang yang dengan hepinya memperdebatkan keberadaan musik mainstream dan anti mainstream. Di matanya, seolah musik mainstream itu picisan dan nggak nyeni. Hanya mengikuti faktor ‘U’ (Uang) saja. Dibuat oleh musisi yang dikejar kebutuhan hidup, dan berbangga setelah karyanya populer sampai anak balita pun tahu bahkan hafal.

Dan anti mainstream levelnya berada di atas awan. Eksklusif yang bikinnya, eksklusif juga penikmatnya. Sementara saya dengan keukeuhnya pula menyamakan musik apapun sebagai musik apa adanya. Tanpa ada embel-embel apapun. Nikmatilah musik sebagai musik, bukan nikmati musik untuk gengsi, untuk gaya, untuk gaul dan apapun namanya.Karena sesungguhnya yang terjadi adalah bahwa musik menciptakan gaya dan gaul itu sendiri.

Toh, pada akhirnya saya tetap tertawa geli ketika melakukan pekerjaan editing atas sebuah video outing para petinggi sebuah BUMN yang dengan cueknya asyik berjoget menikmati lagu dangdut dan menyanyikan lagu Melayu yang sangat populer secara karaoke.  Bukti bahwa musik bukan milik suatu kalangan atau orang dengan karakter tertentu.

Deuh…ngomongin apa sih saya ini??? #@*#*@*#@!!

 

 

  • W –
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s