You’re My Wonderful Friend :)

Harta yang paling berharga bagi seorang Penyiar Radio adalah Pendengar. Apalagi jika pendengarnya itu bukanlah pendengar selintas lalu, melainkan pendengar yang loyal. Rasanya? Seperti seorang selebriti dengan fans berat.

Saya masih ingat pendengar loyal saya yang pertama, di tahun 1999. Di sebuah Radio Swasta yang hanya memutar lagu-lagu Indonesia di Jl. Paria, Bandung. Ada kebanggaan tersendiri ketika seseorang datang mencari saya —hanya saya— karena dia senang mendengar suara saya, senang disapa saya, senang merasa diperhatikan oleh saya. Namanya mbak Evi. Yang dia bawa ketika datang pun bukannya makanan seperti yang biasa dibawakan pendengar ke radio, dan bukan itu pula yang membuat saya terkesan padanya. Melainkan katalog kosmetik yang selalu dengan rajin dia tawarkan pada saya. 😀 Kegigihannya untuk menjadikan saya downliner-nya memang luar biasa…..

Kenangan ini membawa saya ke tahun 2006, ketika saya kebagian mengasuh acara siang tahun pertama di Radio tempat saya siaran sekarang. Seorang fans yang jarang muncul karena penyiar kesayangannya ke luar negeri, tiba-tiba muncul dan meminta lagu lama. Saya masih ingat lagu favoritnya, salah satu lagu Randy Crawford. Saking sukanya lagu itu, dia minta saya untuk mengirimkan lagunya via e-mail. Ya sudah, bukan permintaan yang memberatkan buat saya.

Selanjutnya, kami sering berkomunikasi lewat internet saja. Chatting, saling mengunjungi blog. Dan ternyata doi orang yang rajin menulis blog, bahkan punya beberapa blog dengan isi yang berbeda. Menyenangkan.

Senin kemarin , 18 April 2011, menjadikan saya mengenang-ngenang satu persatu kawan baik yang berasal dari pendengar saya. Tak semua saya ingat. Tapi yang satu ini memang cukup menohok. Yayu, sahabat saya, mengirim sms sebelum saya berangkat siaran pagi itu.

Winda….sudah tau belum…ceuceu Aya ….ceu Aya tos ngantunkeun… (ngantunkeun = meninggal dunia)

Innalillahii Wainnaillaihi Rojiunn….

Me–ning–gal???

Hati saya rasanya sakit sekali. Nafas terasa sesak. Saya masih ingat saat-saat terakhir saya dan Yayu menengok almarhumah (kami memanggilnya ceu aya). Kondisi fisiknya berubah drastis. Dari cantik ceria segar seperti bintang film Korea (saya selalu menggodanya seperti itu) menjadi kurus, lemah dan jauh berbeda. Tapi bukan itu yang membuat saya takjub. Sinar matanya yang tetap sama semangat seperti pertama ketemu itu yang luar biasa….

Tanpa diminta almarhumah bercerita tentang proses ini itu….tampak biasa dan justru terlihat lebiih lega ketika bercerita. Dan sepertinya sedikit surprise melihat saya dan Yayu mengunjunginya langsung ke rumahnya. ah, andai saya mengalami hal seperti itu, saya tak yakin bisa sekuat perempuan ini.

Berkali-kali saya berusaha memalingkan wajah supaya tidak terlihat olenya mata saya yang berkaca-kaca. Ingin rasanya berteriak marah pada Tuhan, kenapa mesti perempuan yang baik ini yang merasakan penyakit ini. Kanker Payudara.

Ketika saya masih mendongeng untuk anak-anak di RA (Raudhatul Athfal), ceu Aya sempat memberikan setumpuk buku cerita anak masih dibungkus plastik bening untuk disumbangkan pada sekolah. Masih baru, gress. Tapi bukan pemberiannya yang membuat terkesan, melainkan ketulusan itu. Bahkan dengan polosnya doi bertanya, “Apalagi yang dibutuhkan sekolah itu? Insya Allah, aku siap bantu….”

….

Ya, saya kehilangan. Di masa-masa kemoterapinya beberapa waktu lalu, ketika almarhumah masih rajin membuka laptopnya hanya untuk sekedar update FB, ada 2 lagu yang senantias dia minta untuk saya putarkan. Lagunya PADI – Harmony, dan lagunya SHERINA – Simfoni Hitam. Lagu Padi yang cukup sering saya putar. Karena buat saya lagunya Sherina terlalu sedih. Saya selalu percaya, jika kita sedang merasa sedih atau apapun yang dirasa negatif, dengarkanlah lagu yang positif agar suasana hati kita pun terasa lebih baik.


Kemudian statusnya di FB tak pernah update, bahkan untuk sekedar memperlihatkan dia sedang asyik memainkan game FB kesukaannya. lalu saya dan Yayu saling sibuk mencari tahu….

Sampai hari kemarin…

Sehari sebelum Yayu mengirimi saya sms itu, seharian saya merasa sedih. Entah kenapa. Tak ada alasan, just feeling blue. Ketika saya ceritakan hal itu pada Yayu, katanya itu insting…perasaan kita yang bicara….

Jelang jam 11 siang hari Senin, 18 April 2011, sebagai salam perpisahan  saya putarkan lagu favoritnya yang hampir tak pernah saya putar.

Sherina – Simfoni Hitam

T’lah kunyanyikan alunan-alunan senduku
T’lah kubisikkan cerita-cerita gelapku
T’lah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku
Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu


Selamat jalan, Sahabat…

Setidaknya kami tahu, kau sudah tak perlu lagi merasakan sakit itu lagi di dunia ini…

We Love you……:)

 

 

 

#In Memoriam : Yuanita Arikana (Aya/ Kana)

RIP 17 April 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s