IMON

Dimulai pada tahun 2007-an lalu, ketika radio tempat saya siaran seakan seperti perahu besar di tengah lautan berair tenang…

Tiba-tiba saja mahluk ini datang dan menjadi penghuni kapal itu, menumpang dari pantai Senggigi menuju pantai Jawa, singgah sebentar untuk mengisi perut dan bersenang-senang lalu mencari kapal lain dan berlayar menuju pantai Waikiki untuk menjemur tubuh bulatnya yang bersarung di atas pasir putih lengkap dengan alunan suara ukulele….*ngayal…

Hehehe…nggak, bukaaannn…bukan begitu ceritanya. Tapi kalau bicara tentang IMON, saya ingin dan bisa sebebas-bebasnya berkhayal.

IMON adalah alter ego saya, terbentuk dengan suara mirip Doraemon yang legendaris itu. Pertama kali muncul ketika saya tengah berada dalam ruang produksi untuk merekam versi taping salah satu acara kuliner di radio. Idenya muncul karena waktu itu saya merasa ‘kesepian’ ngomongin tentang makanan dkk tapi ngak ada yang nimpalin. Nah, si Imon ini yang akhirnya nimpalin.

Ihwal nama Imon sendiri bukan saya yang buat, melainkan produser saya untuk acara tsb, mbak Iin. Sebenarnya saya kurang setuju, karena secara tidak langsung membuat orang mengkaitkan Imon dengan Doraemon. Tapi ya sudahlah. Ujungnya malah kebablasan sampai sekarang.

Agak sulit sebenarnya mendeskripsikan Imon seperti apa. Yang jelas, gambaran umumnya adalah dia gembul, senang makan dan jajan (hmm…kok kayak kenal ya?), banyolannya garing, dan bawaannya seneng pake sarung, kayak anak abis disunat.

Masa-masa awal, Imon tidak digarap dengan serius, hanya sebagai karakter sempalan yang muncul di saat-saat tertentu saja. Baru pada sekitar tahun 2008 bersama produser acara yang baru (Oghel-kini menjadi pengisi acara Missing Lyrics dan sejumlah TV Show Trans Corp), Imon mulai  menjadi perhatian dan bahkan mendapat porsi yang cukup banyak (plus berbagai catatan ini itu) di salah satu acara prime time radio kami. Lumayan mendulang respon yang positif sebagai pengisi acara sore hari, dan bahkan membuat saya terkenang, karena ternyata sampai hari ini masih banyak yang mengingat saya dan Imon….

Salah satu kenangan yang masih lekat adalah ketika suatu sore, seorang anak laki-laki umur TK datang ke studio dan masuk ke ruang siaran, melongok-longook ke bawah meja tempat saya siaran, dan dengan polosnya bertanya,

“Imonnya MANA???”

Mendengar pertanyaan itu saya malah terharu, berarti saya cukup sukses membohongi seorang anak kecil….~~ (bohong itu dosa, kakakkkkk!!)

Bahkan sekian waktu berlalu, Imon menjadi andalan saya untuk bersembunyi di balik topeng bersuara serak. Bersama Imon, saya sempat mengalami masa-masa Sahur dan Buka Puasa bersama (karena kebagian jatah nemenin pendengar di jam segitu). Bersama Imon pula saya sempat menggoda teman-teman Steven And The Coconut Trees saat kebagian meng-interview mereka. Bersama Imon pula, saya merasakan makanan-makanan enak hantaran para pendengar dari berbagai usia yang merasa terhibur oleh Imon:)

Sayang Imon tak lama mencecap kebersamaan dengan saya. Karena ini dan itu, hal yang tak bisa dijelaskan disini karena etika, Imon memutuskan untuk menumpang kapal lain dan berlayar ke Waikiki seperti yang saya bilang di awal….:D

“Aku betah disiniiiii…..hahaha…..!” seolah saya bisa mendengar suara itu menggema dalam kepala saya, bersarung dan membaringkan badan menjemur punggung yang berbulu di atas pasir ditemani suara alunan ukulele……

– W –

Advertisements

2 thoughts on “IMON

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s