PENDENGAR ADALAH RAJA

PENDENGAR ADALAH RAJA

Konsep ‘Pendengar Adalah Raja’ kadang memang jadi bumerang buat penyiar. Mungkin itu yang membuat sebagian besar rekan penyiar, memilih untuk menjadi penyiar yang ‘tegaan’ dan tidak terlalu dekat dengan pendengarnya. Tapi saya malah sering kecewa sendiri karena justru rekan-rekan penyiar (mudah-mudahan saya tidak tergoda untuk menjadi seperti itu) malah meng-ekslusifkan diri sendiri dan mencitrakan diri sebagai sosok ikon dan bahkan selebriti yang seolah tidak terjangkau. Apalagi jika memang sang penyiar radio sudah melangkah ke ranah lain seperti masuk ke dunia TV misalnya.

Padahal langkah awal menjadi PENYIAR radio pastilah sebelumnya adalah menjadi PENDENGAR radio terlebih dulu. Apapun alasannya masuk ke dunia radio, mendengarkan, adalah satu jalan menuju dunia radio. Entah itu hanya mendengar tak sengaja, mendengar sekilas, atau mendengar sungguh-sungguh dan memperhatikan.

Saya mengakui itu. Saya merasakan bagaimana senangnya menjadi pendengar yang diperhatikan oleh penyiar radio yang saya dengar. Meskipun bentuk perhatian itu hanya disampaikan dalam bentuk pesan telpon dari saya yang dia bacakan singkat (jaman dulu belum ‘musim’ baca sms atau bahkan fb dan twitter hehe), tapi saya senang banget! Sebaliknya, ketika saya merasa tidak diperhatikan, saya juga akan merasa sangat kecewa. Itulah salah satu alasan kenapa saya menjadi penyiar radio yang ‘tidak tegaan’ kepada pendengar. Bikin orang senang adalah tujuan hidup di dunia radio, jangan lupa juga, bikin orang lain senang sama dengan menabur pahala hehehe…

Dari yang tadinya sekedar dengar selintas, lalu dilanjut dengan dengar beberapa kali dan kemudian menjadi pendengar yang selalu ada setiap kali siaran, menjadi motivasi buat saya untuk menjadi teman, sahabat bahkan saudara bagi pendengar saya. Terlalu berlebihan ya? Hehe…..biarin ah….ini kan Cuma opini…jadi yaaa, terserah saya dong! Hahaha:D

Jadi saya tahu bagaimana rasanya dicuekkin sama penyiar, tahu juga bagaimana rasanya disambut oleh penyiar, dan ikut merasakan juga ketika ada salah seorang pendengar saya saat ini yang merasa tidak di’sambut’ oleh rekan penyiar lain. Dan saya jadi cari alasan deh, untuk membela rekan sejawat hehe…

Intinya begini. JIKA anda baru akan memulai karir sebagai PENYIAR RADIO, selalu ingat, bahwa penyiar radio ADA karena PENDENGAR RADIO. Penyiar dan Pendengar, terikat karena simbiosis mutualisme, saling membutuhkan. Memangnya kalau tidak ada pendengar, bakal enak gitu? Justru rasanya akan seperti nggak ada gunanya!!! Sebaliknya, kalau dengar radio tanpa penyiar, rasanya juga seperti makan sayur tanpa garam. Hambar rasanya.

Belakangan hari di dunia radio swasta sempat terlanda tren ‘ngomong dikit lagu banyak’. Tren tersebut membuat komposisi siaran radio dalam satu jam menjadi 80% lagu dan 20 % bicara. Cukup menyusahkan bagi penyiar yang doyan ngomong kesana kemari. Tapi jika format radio justru tanpa lagu dan bicara melulu seperti radio berita, kadang nggak asik juga kan? Telinga kita dicecar dengan berita tanpa henti, tanpa diselingi musik sebagai pereda stress, rasanya justru malah akan semakin bikin hati cape.

Naaa, jadi yang paling pas yaaa, antara talk dan lagu, seimbang di kuping. Salah satu tugas penyiar adalah menyampaikan hal tersebut. Memadu padan antara durasi bicara yang cukup dan bahan pembicaraan yang menarik serta lagu yang juga disukai pendengar. Terkesan enteng dan menyenangkan, ya?

Mungkin saja. Enteng? Jelas tidak, karena untuk meraciknya menjadi satu ramuan yang nyaman di kuping membutuhkan konsentrasi dan rasa seni. Menyenangkan? Ya, tentu saja! Menjadi Penyiar Radio adalah salah satu profesi yang paling diminati di dunia karir!!!

Nah, kalau sudah jadi PENYIAR RADIO, jangan jadi sombong dan merasa jadi manusia paling keren sedunia. Memang, syarat menjadi penyiar radio adalah harus memiliki wawasan yang luas, suara yang enak didengar, cara bicara yang santun dan menyenangkan hati pendengarnya. Namun sekarang ini banyak penyiar radio yang saya rasa justru menyalahi semua aturan itu (khususnya penyiar di radio segmen remaja/anak muda) …

Pastinya, saat sedang berada di dalam ruang siaran, saya akan sangat menikmati apa yang saya lakukan. Mendengarkan lagu-lagu yang kebanyakan memang favorit saya juga, menyenandungkannya, menyiapkan bahan siaran, membaca respon yang masuk, bahkan kadang saya siaran sambil chatting dengan sahabat-sahabat yang saya dapat dari dunia siaran. Dari mereka pula saya dapat pujian, kritikan, omelan, saran, ilmu, dan banyak lagi.

Sekali lagi, ini hanyalah opini, atau curhat saya sebagai penyiar radio. Dan sama sekali tidak berkaitan dengan institusi mana pun. Maaf ya, jika ada yang tersinggung. Sama sekali tidak ada niatan menyinggung kok…hehe……..

 

 

 

-W-


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s