SANDHY SONDORO – Self Titled Album ‘SANDHY SONDORO’

SHANDY SONDORO – Self Titled Album ‘SANDHY SONDORO’


Dirilis November 2010

Sony Music Entertainment Indonesia

Tracklists :

Bunga Mimpi

Salamanja

Why Don’t We

Superstar (How Could We Not love)

End Of The Rainbow

You And I

In The Name Of Peace

Down On The Streets

I Don’t Know Where

An Unordinary Lovely Friend

People (Shall We Live For money)

Last Dance

That’s The Way

Don’t Let It Bring You Down


Mendengar ‘Bunga Mimpi’ mengalun di CD dengan hardcover warna putih ini melayangkan ingatan saya pada pertemuan saya dengan Sandhy Sondoro pada tanggal 28 Januari 2010 lalu. Sudah lama sekali, tapi saya masih ingat sampai hari

sampai hari ini.

 

Promo album Jazz In The City 2 With Sandhy Sondoro berulangkali saya dengar dan saya putar di acara saya. Tapi masih juga belum nempel di kepala. Jadi masih sering lupa, yang mana lagunya Sandhy Sondoro itu.

 

Sampai akhirnya Music Director RASE FM Bandung, Dery Sastrawijaya, mengingatkan saya bahwa siang itu kami akan melakukan live interview di jam saya, acara Rase Cinta Indonesia mulai jam 12 siang. Bodohnya saya, karena memang bawaan saya yang rock n roll melulu alias SKS (Sistem Kebut Saja), jadilah siang itu bahan interview yang bisa diandalkan hanyalah naskah yang sudah disiapkan Dery. Sisanya, biarkan mengalir saja. Meskipun sebenarnya kurang bagus juga, sih. Segala sesuatunya perlu persiapan yang matang supaya tidak mengecewakan.

 

Well, dengan lagu baru yang tidak familiar, bahan seadanya dan sama sekali tidak ada gambaran seperti apa penyanyi yang akan saya interview siang itu, saya harus siap. Dan datanglah dia, lelaki itu, dengan penampilan sederhana berbalut jeans dan t-shirt abu polos. Juga kacamata gelap model Tom Cruise di film Top Gun. Gitarnya? Tentu saja dibawa! Doi hanya datang berdua dengan manajernya, kami berkenalan sebentar lalu bersiap untuk On Air.

That was our first met. Saya belum ceritakan apa saja yang menarik dari interview siang itu.

 

“Selamanya Cintaku Milikmu…

                  Selamanya Hatiku Untukmu…”

 

Sebait kalimat dari lagu ‘Salamanja’ mengingatkan saya pada pertemuan kedua kami, seminggu lalu di acara amal yang diadakan di kawasan car free day Dago. Hari minggu siang, kira-kira jam 11, dan kami bicara tanpa saling bertatapan. Karena Sandhy berada di OB Van RASE FM di Dago yang mulai terasa panas, sementara saya di studio RASE FM yang berpendingin udara dengan suhu 20 derajat Celcius! Haha…jadilah saya siang itu hanya membayangkan saja berada di depannya.

 

Yang membuat saya seidkit ‘tersanjung’ adalah kata-kata Dery yang menyebutkan bahwa Sandhy masih ingat dengan saya….hehe… satu kebanggaan tersendiri mengingat perjalanan karirnya sudah sedemikian jauh tak terjangkau. Saya hanyalah sebutir pasir di pantai.

 

Sekian bulan berlalu sejak wawancara pertama kami, nama Sandhy Sondoro sudah beredar dimana-mana. Secara Internasional saja Sandhy sudah jadi topik, apalagi di dalam negeri. Penyanyi Indonesia yang terkenal sekalipun nge-fans sama dia. Beberapa kali memuaskan rasa ingin tahu pecinta suaranya yang serak2 dengan tampil di TV secara live, membuat beberapa pendengar yang urun rembug siang itu melalui sms maupun Facebook dan Twitter mencurahkan pertanyaan yang lugas. Seorang pendengar bahkan mengomentari penampilan Sandhy yang paling akhir di TV. Saya bacakan smsnya dan Sandhy tertawa pendek.

 

“Kenapa kok malah nggak kerasa ‘muncul’ Sandhy-nya pas tampil di TV? Keliatan tenggelam dibanding penyanyi lain…waktu itu nyanyi bertiga…”

 

“hehehe…..ya gapapa laahh….mereka kan pengen tampil…gapapa….” Begitu komentarnya. Saya ikut tertawa. Yah, ngertilaahh….Doi kan lebih all out kalo tampil sendiri…

 

“Ngomong-ngomong, Sandhy udah menikah belum sih?” Tanya saya lagi,tentu saja masih saya ambil dari pertanyaan pendengar yang masuk. Saya tahu doi bukan orang yang suka basa basi. Jawabannya yang pendek sudah cukup jelas.

 

“Belum. “

Oya, tentang jawabannya yang pendek-pendek ini, juga sempat membuat saya habis kata-kata di interview pertama dulu. Memang orangnya nggak suka banyak omong kali ya, jadi jawab apa yang ditanya! Hehe….

 

Lama tinggal di Jerman mungkin mempengaruhi cata berpikir dan berbicara juga ya. Tapi sejauh ini, saya tidak merasakan sedikitpun gaya sok keren atau sok ngetop dari Sandhy Sondoro. Padahal dengan modal yang dia punya, saya tahu dia bisa. Lha, nggak perlu sok-sok’an juga dia sudah keren kok. You know, Sandhy, we can feel your inner soul! Haha! Bukan lebay…..tapi memang saya terbuai sentuhan bluesy dan musik soul yang kental di album ini.

 

Album yang ditunggu-tunggu banyak orang sejak kemunculan Single Malam biru (Kasihku) dan single duetnya bersama Indah Dewi Pertiwi di lagu Gejolak Cinta. OK lah, yang lebih ‘nempel’ di telinga pendengar Indonesia umumnya adalah yang ngepop dan aman. Malam Biru (kasihku), Gejolak Cinta, Bunga mimpi dan Salamanja, adalah contoh yang ngepop itu tadi. Tapi sejak pertama saya dengar lagu Superstar (How Could We Not Love) dibawakan Sandhy secara akustik di depan saya (and I feel it so deep, hehe) pada interview pertama, saya sudah jatuh cinta pada suaranya yang ‘edan’ ini! Nggak salah kalau dia juga dijuluki macam-macam, mulai dari another John Legend sampai White Nigger…weleh-weleh…however, dia tetap Sandhy Sondoro dan bukan John Legend atau siapapun.

 

Lagu ‘People (Shall We Live For Money) menggoda saya untuk menggoyangkan kepala. Saya jadi membayangkan suasana stage di sebuah bar jazz di Berlin dengan sorotan lampu yang tidak terlalu terang ke tengah stage, tempat si pria kecil menyanyi dengan soulfull dengan gitar akustiknya. Dan penikmat lagunya membentuk kerumunan di pinggir stage sambil bertepuk tangan. Hehe, jadi ngelantur kemana-mana…

 

Tapi memang itu yang saya dapatkan setelah mendengar lagu-lagu di album self titled ini. Album ini dijanjikan rilis bulan April 2010 kalau tidak salah. Itu yang dikatakan Sandhy pada interview pertama dulu. Dan ternyata baru bisa rilis di bulan November. It’s OK, setidaknya sudah bisa mengobati kepenasaranan penikmat musik tentang sejauh mana karya seorang Sandhy Sondoro.

 

Baiklah, memang hanya ada 2 lagu saja yang berbahasa Indonesia di album ini. Tapi totally, semuanya menggambarkan seperti apa perjalanan musik Sandy Sondoro. Jerman-Indonesia, Ngamen di subway-bar-kafe, Dianne Warren, kontes menyanyi di Latvia, When A Man Loves A Woman-nya Michael Bolton, dan kecintaannya pada lagu-lagu Benyamin S, tergambar dalam album ini. Suara yang khas, lagu yang ditulis sendiri, dan permainan gitar yang baik, juga menjadi modal yang mahal. Benar-benar tak terbayangkan kalau lelaki ini justru dulunya menekuni dunia arsitektur. Ah, nggak masalah. Toh masih sama-sama bernafas seni

 

 

Saya terkekeh sendiri mengingat Sandhy yang mengiyakan ketika saya konfirmasi satu hal.

 

“Katanya dulu pernah diminta sama Tora Sudiro buat gambar ya? Dibayar murah pula?Betul?”

“Iya…Cuma 2 ribu hehe….” Jadi geli aja kalau ditambah membayangkan wajah konyolnya Tora Sudiro hehe…

 

“Lagu Indonesia yang mana yang disuka, selain lagu-lagunya Bang Ben?” pertanyaan satu ini juga melayangkan ingatan saya ketika Sandhy meneriakkan kata ‘TAHU’ ala Bang Ben. Tapi kali ini dia menyanyikan sedikit lirik lagu Indonesia kesukaannya yang lain.

 

“Hanya satu kata….

            ketika ingin bicara….”

Haiyahhh…lagu lawasnya ADEGAN rupanya…vokalisnya Harry Moekti dengan judul ‘Satu Kata’ itu lhooo… Tapi tetap, terakhir saya ingin dengar doi menyanyikan lagi lagunya Bang Ben, hehe…sebagai kenang-kenangan.

 

“TAHU! TARARAHUUUU!”

Sabarahaan mang, tahuna ?” iseng,  saya spontan menyahut. Terdengar suara tawa beberapa orang dari OB Van nun jauh disana. Dan itu adalah akhir dari pertemuan kami. Keduanya ditutup dengan lagu bang Ben yang legendaries itu. Sejujurnya, saya hanya tahu beberapa hits saja lagunya bang Ben. Itupun hanya ‘Kompor Mleduk‘ dan lagu ‘eh ujan gerimis ajeee…’ versi duet dengan Ida Royani 😀

 

Dan Sandhy Sondoro-lah yang mengenalkan saya pada lagu ‘TAHU’ beraransemen blues ala almarhum Benyamin. S. Luar biasa…dari Jerman datang ke Bandung bawa Tahu……..

 

Sandhy Sondoro masih punya banyak mimpi, termasuk memasukkan unsur unik dari Turki seperti yang dia katakan juga pada saya. Jelas bahwa perjalananya masih panjang. Dan album self titled ini hanyalah sebuah awal yang lain.

 

Sukses ya, Bro!! Semoga kita akan ketemu lagi suatu hari nanti:)

 

 

-w-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s